Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Tempat wisata lainnya yang wajib dikunjungi saat berada di Bandung, Jawa Barat adalah Guha Pawon. Di sini penikmat keindahan alam ...



Tempat wisata lainnya yang wajib dikunjungi saat berada di Bandung, Jawa Barat adalah Guha Pawon. Di sini penikmat keindahan alam akan merasakan denyut nadi manusia Pasundan pertama zaman purbakala yang tinggal di Kota Kembang.

Perjalanan saya selanjutnya adalah ke tempat situs purbakala Gua Pawon yang terkenal di Kota Bandung, tepatnya di daerah Raja Mandala, Cimahi, Bandung Barat, Jawa Barat. Semula, saya ingin ke Danau Situ Ciburuy yang jaraknya dekat dengan Bandung Kota dan tidak berniat ke tempat ini. Setelah bertanya kepada mamang tukang Nasi Kuning pinggir jalan mengenai arah jalan menuju Situ Ciburuy, dia menyarankan sebaiknya mampir ke Guha Pawon, karena saat ini Situ Ciburuy sudah tak seindah dahulu. Menurutnya, jika saya ke Guha Pawon, tidak hanya pemandangan indah yang bakal saya dapatkan melainkan ilmu pengetahuan baru tentang sejarah zaman purbakala yang ada di Bandung.

Tanpa berpikir panjang, saya akhirnya mengikuti arahannya. Perjalanan dari warung si mamang ke Gua Pawon hanya sekitar 45 menit dan tepat pukul 09.00 WIB saya tiba di lokasi. Pada saat itu, belum ada pengunjung yang datang, mungkin bisa dibilang saya tamu pertama yang tiba di sana. Sambil menunggu tamu lainnya datang dari tempat parkiran motor saya membaca artike yang tertera di papan informasi untuk mengetahui sejarah Gua Pawon itu. 

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada seorang pria berkulit hitam menghampiri saya dan baru membuka pintu masuk Guha Pawon sambil memegang sapu lidi yang diselipkan di ketiaknya. Lantas, pria itu langsung mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam gua,"sendirian aja, neng? enggak sama teman?," tanyanya. "Tidak 'A, saya memang hobi ngebolang sendirian," jawabku sambil tersenyum kepadanya.

Dia menyarankan, sebaiknya datang ke Gua Pawon pada saat matahari terbenam. Sebab, siang hari tidak begitu bagus, banyak aktivitas pabrik yang merusak pemandangan serta hawa panas akan membakar tubuh kita. Selain itu, di sore hari dari atas gua mata kita akan dimanjakan dengan hamparan keindahan panorama alam Bandung Barat dan bisa mampir ke Stone Garden mirip Stonehenge di luar negeri.

Sambil berjalan menuju ke dalam gua, selang beberapa menit tamu baru dari Bandung datang. Beruntung ada teman yang akan masuk ke dalam gua, karena saya agak khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika sendirian di dalam gua. 

Kami akhirnya berkenalan. Sepasang pemuda-pemudi itu merupakan aktivitis peduli situs purbakala. Dia menceritakan berbagai aktivitasnya kepada saya, meminta saya untuk turut serta menjaga kearifan lokal terutama situs-situs purbakala yang saat ini tidak mendapatkan perhatian penuh oleh pemerintah.

Setelah berbincang panjang lebar sambil berjalan ke dalam goa, tibalah saya di pintu utama Gua Pawon. Karena saya penakut, akhirnya mempersilahkan meraka untuk masuk duluan. 

Tiga meter dari mulut Gua Pawon, aroma tak sedap langsung menyergap alat penciuman saya. Baunya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, mungkin seperti ini kalimat yang tepat untuk menjelaskan aroma yang saya cium ketika masuk Gua Pawon ; bau air kencing ditambah bau kotoran tikus yang sudah lama di dalam air dengan lumut hijau lembab, begitulah, bayangkan sendiri.

Tetapi, bau tak sedap itu lantas hilang saat melihat batuan besar dengan tekstur yang tak beraturan seperti karang di dasar lautan. Gua Pawon tidak seperti gua-gua lain, yang letaknya di dalam perut bumi. Untuk mencapainya, kita harus menaiki sekira 50 lebih step ladder yang telah disediakan oleh masyarakat. Sebab Gua Pawon merupakan sebuah gunung besar yang terbuat dari batuan alam, 600 meter di atas permukaan laut.

Untuk melihat keindahan panorama batuan fosfat dan kapur itu, kita harus sedikit bersabar. Di samping karena baunya yang kurang sedap, kita juga harus merunduk-runduk untuk dapat masuk ke dalam gua. Namun setelahnya, Anda akan leluasa berdiri tegak sambil melihat puluhan kelelawar beterbangan ke sana kemari dan bisa memandangi Desa Citatah dari atas.


Menurut cerita penduduk setempat, Gua Pawon merupakan jantungnya Jawa Barat atau dengan kata lain sejarah Pasundan berasal dari gua ini. Sebab, di Gua Pawon untuk pertama kalinya ditemukan kerangka manusia purba yang diyakini merupakan orang Sunda pertama di Jawa Barat.

Kalau kata teman baru saya itu, dulunya Bandung merupakan laut besar dan Gua Pawon ini merupakan salah satu coral terbesarnya. Jika dilihat dari bentuk batunya, memang seperti karang di laut, kemudian dia menjelaskan lagi bahwa di sini tempat singgah manusia-manusia purba zaman Megalitikum.

Untuk memastikan ucapannya, saya akhirnya mencari tahu lewat dunia maya ihwal Guha Pawon. Disitat dari laman Sebandung.com, saya mendapatkan jawaban ilmiah berdasarkan penelitian ahli sejarah.

"Berdasarkan hasil survey G.H.R. Von Koenigswald dan A.C. De Yong yang dilakukan dari tahun 1930 hingga 1935 diasumsikan letak gua ini ada di tepi Danau Bandung Purba. Di sini juga banyak ditemukan berbagai peralatan zaman purba yang terbuat dari bahan kalsidon, obsidian, rijang, kwarsit, dan andesit yang berbentuk gelang batu, anak panah, penyerut, pisau, dan batu asah yang berasal dari zaman Preneolitik. Di gua ini juga banya ditemukan berbagai artefak zaman purbakala seperti gerabak, alat perhiasan, spatula, dan sebagainya. Pada zaman ini manusia sudah mulai hidup secara menetap di ceruk atau gua-gua di perbukitan."

Tidak hanya itu, Guha Pawon juga ada kaitannya dengan mitologi Sangkuriang. Di ruang utama Gua Pawon, warga meyakini sebagai tempat memasak atau dapurnya Dayang Sumbi, ibunda dari Sangkuriang. Dahulu kala, Ibu Dewi Dayang Sumbi sering membuatkan makanan untuk suaminya Tumang dan Sangkuriang di tempat tersebut. Percaya atau tidak, itu urusan belakangan yang penting bisa datang dan menyaksikan keajaiban ciptaan Tuhan, sudah cukup.


Puas melihat bagian tengah Guha yang besar dan dipenuhi kelelawar itu, saya akhirnya mendaki ke atas Gua, di mana terdapat artefak manusia purba-tiruan, yang asli sudah diamankan di museum-dan ditutupi pagar besi oleh pihak pengelola. Artefak itu dipercaya sebagai manusia pasundan pertama yang ada di Jawa Barat.

Tepat di depan ruang artefak itu, terdapat ruang sedikit lebar dengan batuan yang menjulang ke langit. Jika memiliki jiwa pemberani, Anda bisa memanjat batunya untuk dapat menjelajahi gua berikutnya dan menyaksikan pemandangan pabrik-pabrik batu kapur di sekelilingnya.

Teman baru saya itu menceritakan, bahwa Gua Pawon ini diambang kehancuran. Pasalnya, pabrik-pabrik batu alam telah menghancurkan tebing-tebing serta pegunungan di kiri dan kanan gua, untuk mengambil kapur dan batuan lainnya. Miris, melihat situs zaman purbakala yang sudah tak terawat ditambah lagi dengan adanya pengerukan batu yang mengancam Gua Pawon.

Jika pemerintah kota Bandung, perhatian dengan situs purbakala ini, tentunya tidak akan ada lagi pabrik-pabrik yang menggerus batuan alam dan para peminat sejarah dari berbagai daerah akan datang untuk ikut melestarikan Gua Pawon. Saya beruntung bisa melihat langsung tempat ini, mungkin sepuluh tahun yang akan datang, Gua Pawon sudah rata dengan tanah, karena telah dimakan oleh kerakusan pengusaha batu alam dengan menjadikan batuannya sebagai mata pencaharian. 

Saya rasa, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan harus segera bertindak cepat menyelamatkan peninggalan zaman Megalitikum itu, agar tidak hancur dikeruk batunya oleh para pengusaha. 

Ditambah lagi, tidak adanya penjagaan ketat di seputar lokasi oleh penduduk sekitar. Bisa jadi, banyak orang yang datang usil menggali tanah yang berada di dalam gua tersebut dan mendapatkan barang berharga peninggalan zaman purba tanpa memberitahu pemerintah setempat, ini akan membahayakan bagi perkembangan sejarah purbakala ke depan. Sebab, ahli sejarah atau peneliti sejarah belum banyak melakukan eksavasi di Gua Pawon.



Perjalanan menuju Gua Pawon

Tidak sulit untuk menuju lokasi Gua Pawon. Dari Bandung Kota, kita dapat mengambil akses menuju Cimahi, Padalarang hingga Jalan Raja Mandala sampai ke Cipatat. Jaraknya dari Bandung ke Gua Pawon hanya sekitar 25 hingga 30km dan bisa ditempuh dengan berbagai kendaraan.

Yang perlu diperhatikan adalah keselamatan saat menuju ke lokasi, apalagi bagi pengendara sepeda motor jika tidak berhati-hati akan kesenggol kontainer dan truk besar pengangkut batu karena jalannya sedikit licin karena banyak terdapat pasir dengan tekstur jalan berkelok-kelok.

Posisi Gua Pawon berada di sebelah kanan dari arah Bandung. Terdapat gapura besar bertuliskan "Gua Pawon" sebagai petunjuk arah menuju situs purbakala itu.

Dari gapura itu, sekira 5 sampai 6km untuk sampai ke lokasi. Sama seperti jalan besar, jalan menuju Gua Pawon Anda akan menemui turunan, tanjakan, jalan berkerikil tajam dengan pemandangan pabrik di samping kiri dan kanannya. 


Jika Anda mengendarai mobil, tak perlu khawatir karena, aksesnya cukup bersahabat untuk kendaraan roda empat meski harus gajluk-gajlukan sepanjang jalan. Tiba di gerbang Gua Pawon terdapat area parkir yang luas, muat untuk puluhan kendaraan roda empat dan roda dua. 


Saya sarankan untuk tidak membawa makanan dan minuman ke lokasi, di samping bisa membuat kotor situs-pasti makanannya akan dibawa ke atas-serta mematikan usaha warga sekitar yang telah menyediakan kedai makan di bawah Gua Pawon. Hampir semua makanan tersedia di sana, dari makanan berat hingga makanan ringan. Jenis minumannya pun beragam, dari minuman kaleng, sampai racikan sendiri atau minuman khas Jawa Barat. 

Semoga kita yang berkunjung ke Gua Pawon mendapatkan ilmu pengetahuan baru seputar sejarah purbakala yang berada di Jawa Barat. Selain itu, bisa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa lantaran telah menciptakan keindahan alam yang begitu mengagumkan di Indonesia. 

Pelajarannya adalah agar kita dapat ikut menjaga dan melestarikan Gua Pawon dari tangan-tangan jahat. Kalau bukan kita siapa lagi?





Berada di 1442 meter di atas permukaan laut (MDPL), Bukit Moko merupakan tempat yang paling tepat untuk melihat gemintang bertebaran ...


Berada di 1442 meter di atas permukaan laut (MDPL), Bukit Moko merupakan tempat yang paling tepat untuk melihat gemintang bertebaran di langit dan juga yang tersebar di bumi.

Wisata ke Bandung, kurang afdhol jika belum mampir ke Bukit Moko. Masyarakat Kota Kembang biasanya menyebut Bukit Bintang, karena kita bisa melihat gemerlap bintang di langit dan lampu-lampu penduduk Bandung yang berwarna-warna seperti bintang.

Bagi penyuka fotografi, Bukit Moko sarana paling pas untuk menangkap momen naik dan turunnya matahari. Bulan purnama atau gerhana akan sangat dekat jika dilihat dari Bukit Moko. Apabila cuaca sedang bagus, hamparan pemandangan indah dan pegunungan yang menjulang tinggi menjadi latar belakang apik.

Waktu paling tepat ke Bukit Moko sejak pukul 15.00 WIB hingga 20.00 WIB. Selain bisa mengabadikan sunset, lampu-lampu rumah dan gedung di Bandung sedang cantik-cantiknya.

Selain menyaksikan pemandangan tersebut, mata kita juga akan dimanjakan dengan adanya pemandangan patahan Lembang yang ada di atas Bukit Moko. Untuk melihat patahan Lembang, kita harus berjalan kaki di Bukit Moko selama kurang lebih 30 sampai 45 menit atau lebih tergantung kemampuan.


Di atas Bukit Moko, kita akan disambut dengan hamparan puluhan ribu pohon pinus yang menjulang tinggi dan orang pacaran. Ops, hahaha memang benar, sebagian besar pengunjung Bukit Moko membawa pasangan, mungkin hanya saya yang pada saat datang sendirian. Pasalnya, belum sampai ke lokasi, hawa dingin sudah menelusup masuk ke dalam tulang. Saking dinginnya, rasanya tidak cukup memakai jaket, harus membawa pasangan agar tidak kedinginan di atas bukit. 

Tidak hanya orang yang berpacaran di sana, pecinta alam dan fotografi landscape dengan peralatan canggih mereka juga banyak. Mereka datang tak lain untuk camping dan mengabadikan momen sunset dan sunrise.

Mengunjungi Bukit Moko tidak seperti yang dibayangkan, harus manjat-manjat, mendaki tebing atau berjalan merayap-rayap. Di sana sudah jalanannya sudah di paving block, sehingga wisatawan dapat dengan mudah berjalan kaki dari tempat parkir ke atas bukit. Selain itu, juga sudah tersedia kamar mandi, mushalla, gasibu-gasibu dan juga tempat duduk di pinggir bukit untuk menikmati pemandangan alam Bandung.


Pada saat saya mengunjungi Bukit Moko, cuaca sedang cerah di sore hari. Namun sayang, pemandangannya kurang megah karena terhalang dengan asap kiriman dari Kalimantan dan Riau sehingga menutupi panorama puncak gunung yang tersebar di Jawa Barat dan matahari terbenam. Akhirnya saya memutuskan untuk memotret beberapa spot di dalam bukit dan hasilnya lumayan.

Meski datang sendirian, ternyata di atas Bukit saya bertemu banyak teman baru. Salah satunya, Pak Dudung ketua pengelola Bukit Moko. Perkenalan kami bermula ketika dia melihat saya sendirian duduk-duduk sambil merokok di bawah pohon pinus dekat pintu masuk. Kemudian, dia menghampiri saya untuk menawarkan diri memotret diri saya. Pak Dudung bertanya, mengapa saya datang sendirian? saya menjawabnya dengan santai, hanya ingin sendiri dan biasa ke mana-mana sendiri. 

Sepanjang di Bukit Moko saya ditemani Pak Dudung yang merupakan Kepala Desa di perkampungan Cimenyan. Dia menceritakan banyak tentang dirinya dan Bukit Moko itu sampai akhirnya menawarkan saya meminum kopi di kediamannya. 

Pak Dudung mengaku telah merawat dan melestarikan hutan pinus di atas Bukit Moko itu selama kurang lebih 20 tahun. Dengan bekerjasama dengan Perhutani dan Pemkot Bandung, alhasil Bukit Moko yang tadinya hanya hutan rimba menjadi tempat wisata. 


Setelah hampir tiga jam menghirup oksigen di Bukit Moko, saya akhirnya turun gunung dan mampir ke kedai kopi untuk makan, karena badan sudah tidak enak terlalu dingin perlu dihangatkan dengan kopi dan semangkuk mie rebus. Sekira 20 meter dari pintu masuk Bukit Moko ada sebuah kedai yang menjual makanan dengan cara voucher. Kita harus membeli voucher seharga Rp.25 ribu dan akan disajikan aneka makanan, berikut dua macam air.

Oiya, untuk masuk ke dalam Bukit Moko kita harus membayar sebesar Rp.10 ribu. Bagi yang ingin bermalam di sana, pihak pengelola menyediakan tenda berukuran besar dan kecil dari harga Rp.150 ribu hingga Rp. 250ribu. 

Mata saya dikejutkan dengan tampilan malam Bukit Moko. Makan malam terasa sangat nikmat lantaran sambil menyaksikan lampu-lampu Bandung yang satu persatu mulai menyala, dilihat dari Bukit Moko itu terlihat seperti gemerlap bintang dan sayang jika tidak diabadikan.


MENUJU Bukit Moko

Ada dua jalur menuju Bukit Moko, melewati Dago Pakar atau Jalan Padasuka. Karena saya baru pertama kali mengunjungi Bukit Moko, saya diberitahu oleh warga sekitar untuk mengambil jalan lewat Dago, di samping jalannnya sudah bagus dan lebih cepat sampai. 

Tapi ternyata, saya harus melewati jalan menuju Restoran Dago Pakar, kemudian Tebing Keraton ke atas lagi. Bukannya Bukit Moko yang saya dapatkan malah bukit gersang dan perkampungan warga. Maklum orang baru, nyasar merupakan nama tengah mereka. Akhirnya, saya bertanya kepada penduduk, seorang petani bilang lewat dua bukit lagi dengan jurang di kanan jalan.

Saya menelan ludah, karena saya sangat benci jalan turunan, berpasir dan berbatu, itu sangat berbahaya bagi yang tidak ahli membawa kendaraan roda dua manual. Hampir di setiap turunan saya meminta tolong mamang-mamang yang berada di bawah bukit untuk membantu saya menurunkan motor. 

Jalan yang saya lewati selama kurang lebih satu jam setengah itu hanya jalan setapak, dengan jurang di samping kanannya. Konon, banyak orang yang jatuh di sana jika tidak berhati-hati, mengingat jalan tersebut masih jelek penuh batu dan berpasir.

Pulangnya, saya memilih melewati Jalan Padasuka, dari Bukit Moko hanya tinggal lurus saja, tidak berkelok-kelok seperti awal mula saya mengunjungi Bukit Moko. Iya lurus saja dengan menuruni bukit, turunannya sangat curam, sedikit pencahayaan jalan, hanya lampu sorot dari kendaraan. Parahnya lagi, jalanan yang hanya berukuran 3 meter itu dua arah dan tidak ada pembatas jalan maupun penjaga jurang, jadi kalau kita tidak berhati-hati akan berbahaya.

Hikmahnya adalah, saya bisa melihat pemandangan alam Bandung yang begitu memesona. Saya diberi kesabaran yang begitu besar oleh Allah SWT dan pikiran dicerahkan bahwa setiap masalah itu pasti ada solusinya, kita mau menghadapinya atau malah balik arah atau kabur? tergantung kita. Ketika kita menghadapi masalah itu dengan baik, bersabar, ikhlas sambil meminta pertolongan kepada Allah SWT, kita akan mendapatkan kesuksesan, mendapatkan apa yang kita cita-citakan dan impikan.




Curug Bentang selain indah, ternyata kaya akan mitos. Konon air terjun itu tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno bertemu Nyi Ror...


Curug Bentang selain indah, ternyata kaya akan mitos. Konon air terjun itu tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno bertemu Nyi Roro Kidul dan meminta bantuannya untuk menyelamatkan Indonesia dari serangan musuh.

Setiap tempat di Jawa Barat memiliki cerita rakyat atau lebih dikenal dengan legenda. Percaya atau tidak itu urusan belakangan, yang penting bisa menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Seperti di Curug Bentang yang terletak di Desa Adat Banceuy, Subang, Jawa Barat menyimpan jutaan cerita mitos. Padahal jika kita melihatnya dari sisi pemandangan alam, Curug Bentang merupakan tempat paling tepat untuk melarikan diri dari kebisingan Ibukota, sebab tempatnya tersembunyi dan amat sangat jarang orang datang ke sana. 

Menurut bahasa, Curug memiliki arti air terjun sedang Bentang adalah bintang atau gugusan bintang. Secara terminologi Curug Bentang merupakan air terjun tempat pantulan cahaya bintang-bintang dari langit. Jika dilihat pada malam hari, air terjun ini akan berkilauan layaknya bintang-bintang di langit.

Curug Bentang ada kaitannya dengan kisah Tangkuban Parahu, dan Gunung Burangrang selain itu curug ini juga berdekatan dengan Desa Adat Banceuy yang terkenal dengan cerita Raden Syaikh Jamaluddin akrab disapa Aki Leutik atau Kakek Kecil disebut Leutik atau Keil karena tubuhnya hanya sebesar biji dan mampu masuk lewat lubang jarum.

Air terjun ini juga dikaitkan dengan kisah Bung Karno, lantaran presiden pertama RI itu kerap mengunjungi Curug Bentang untuk mencari ilmu kenegaraan lewat ajaran Padepokan Prabu Siliwangi yang berada di Subang dan untuk meminta bantuan Tuhan lewat perantara Nyi Roro Kidul dalam menyelamatkan Indonesia dari serangan musuh. Nama Curug Bentang ini bukan diambil secara asal, ada sejarahnya, konon Presiden Soekarno mendapatkan tujuh cakra sunda dari bintang di langit saat bersemadi di tempat itu.

Konon, air terjun itu dijaga oleh tujuh bidadari yang menjelma sebagai ular besar dengan sisik terbalik. Ke tujuh bidadari itu yang menjaga Bung Karno saat melakukan samadi di Curug Bentang. Hingga saat ini, air terjun tersebut masih dijaga oleh tujuh ular dan juga Aki Leutik.

Mitos lainnya adalah di dasar air Curug Bentang dipercaya terdapat harta karun melimpah dan jika diambil bisa melunasi hutang-hutang Indonesia. Namun, belum ada orang yang berani menyelam ke dalam air tersebut, karena tidak mengetahui seberapa dalam air tersebut. Dari cerita rakyat setempat, ujung airnya menyambung ke Laut Pantai Selatan dan dekat dengan kerajaan Nyai Roro Kidul.

Mendengar cerita rakyat itu, banyak masyakarat dari berbagai wilayah datang untuk melakukan ritual-ritual seperti yang dilakukan Bung Karno. Tujuannya tak lain, untuk mendapatkan kekayaan, pertolongan agar terhindar dari marabahaya oleh penguasa air terjun yakni Nyai Ratu Timun, Kembang Kendis, Klenting Jawa, Nyai Masayu Purbaningrum, Ambar Laweh, Melalur Ayu dan Semiluh Taman.

Tak ayal, saat mengunjungi air terjun Bentang ini, terdapat bekas sasajen di kiri dan kanannya. 


Menuju Lokasi

Saat menuju lokasi Curug Bentang, sepanjang jalan akan menemui jalanan berbatu penuh pasir dengan kontur menanjak dan menurun. Dari jalan Ciater menuju Desa Banceuy sekira 10 hingga 15 km lebih dan bisa dilalui menggunakan sepeda motor. Namun, untuk menuju ke dalam curug, kita harus berjalan kaki kurang lebih satu jam dari atas gunung ke bawah, sebab letaknya di bawah kaki gunung.

Saya dan kawan dari Bandung, sempat nyasar ke beberapa tempat. Karena, mencari Desa Adat Banceuy yang terpencil, kira-kira kami bertanya kepada warga sekitar sebanyak empat kali dan akhirnya bertemu dengan Desa Adat Banceuy. 

Ternyata, dari Desa Adat Banceuy, perjalanan tidak berjalan mulus, kami masih tetap tersasar hingga Desa Sanca kemudian bertanya lagi kepada warga sekitar. Beruntung, kawan saya warga asli Bandung, saat bertanya tak begitu kesulitan, karena bahasa mereka sama. 

Setelah diberitahu warga ihwal akses jalan menuju Curug Bentang, kami mendapatkan jalan alternatif. Ya, saking alternatifnya, sampai adrenalin saya diuji, karena, jalanan menurun sangat curam dengan batuan tajam serta pasir. Kemudian bertemu lagi dengan jalan menanjak yang sangat terjal, saya hampir putus asa, tertinggal jauh dengan teman saya karena tidak berani untuk melewati turunan curam itu. 

Matahari sudah tidak bersahabat, cuaca panas membakar badan saya namun angin membuat badan yang berkeringat kembali segar saat berteduh di bawah pohon. Pada saat saya berhenti, tidak ada satu orangpun yang melintas, hanya ada sawah, hutan di kiri dan kanannya. Ingin kembali pulang rasanya, karena kawan saya itu meninggalkan saya tanpa mempedulikan ketakutan yang bergelayut di diri saya. 

Mungkin, dia melakukan itu untuk membuat saya melempar jauh-jauh perasaan takut atau tidak mampu. Pasalnya, pada saat terdesak manusia kecil bisa jadi raksasa dan mampu membalikan gunung dengan jemarinya. 

Alhasil, saya memberanikan diri, dengan bekal doa, saya akhirnya menuruni jalan itu. Satu masalah usai dilewati, masalah selanjutnya hadir dan lebih besar. Saya melihat sebuah jalanan menanjak cukup tinggi sekira 10 meter mungkin lebih. Melihat jalan itu, saya tak berhenti menelan ludah, sambil membaca doa saya mulai menggas motor dengan sekuat tenang. Beruntung, motor yang saya pakai adalah motor bebek, dengan memainkan gigi motor tanjakan penuh batu itu berhasil dilampaui dengan apik, meski motor sempat ngadat sebentar.

Saya menghadapi jalanan curam seperti itu sebanyak tiga sampai empat kali. Ternyata, masih ada masalah yang begitu menghebohkan, yakni melewati jalan setapak yang di kiri dan kanannya adalah jurang menggunakan sepeda motor. 

Rasanya ingin menangis, kesal, lelah, lapar menggelayuti pikiran saya. Mungkinkah saya bisa melampaui jalanan itu? lagi, kekuatan doa menyelamatkan saya dan bisa melewatinya tanpa ada rasa takut. 

Setelah melewati itu semua selama satu jam lebih, kemudian kami melihat pohon bambu besar yang menghalangi jalan. Dari balik bambu itu terdapat gapura usang bertuliskan Curug Bentang, kondisinya sangat tidak terawat.

Satu meter dari gapura itu terdapat bangunan-bangunan gubuk mungkin sebelumnya, tempat ini merupakan tempat wisata yang sangat terawat. Namun, ketika kami mengunjungi tempat itu sangat sepi dan hanya kami berdua yang berada di sana.  

Daun bambu kering menjadi alas jalan kami sepanjang jalan, sebetulnya jalan ke Curug Bentang ada jalan setapak yang sudah disemen warga untuk memudahkan masyarakat turun ke air terjun. Tetapi, saat ini, semen-semen itu sebagian sudah retak. Alhasil, kami memarkirkan motor di atas jalanan semen itu dan menuruni jalan dengan berjalan kaki.

Karena jalan menuju curug menurun, kami bisa melampauinya sekira setangah jam sampai 45 menit dengan beristirahat sejenak sambil mengabadikan curug dari atas.


Seperti biasanya, untuk menghilangkan rasa lelah, saya membuka baju dan bertakbir sekeras mungkin dari atas gunung untuk bersyukur kepada Allah karena perjalanan panjang kami mencapai titik akhir. Air sungai yang begitu dingin meski panas matahari seperti menyayat-nyayat kulit seperti memberikan kami relaksasi.

Berendam kurang lebih satu jam di dalam air tanpa berenang ke tengah air. Sebab, mitos masyarakat setempat membuat kami takut dan urung melakukan hal-hal aneh di tempat paling disakralkan oleh Adat Banceuy itu. Terlebih, tidak banyak orang tahu seberapa tinggi air sungai di Curug Bentang, sempat ada yang uji coba dengan mengukurnya dengan pohon bambu setinggi 30 meter lebih namun belum juga mentok ke dasar air.

Usai mengabadikan surga tersembunyi di Subang itu, kami akhirnya bergegas pulang. Sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk berwudhu untuk menyegarkan kembali badan.


Pulang Nyasar ke Sumedang

Setelah menuruni gunung dengan cepat menuju curug, pulangnya kami harus mendaki gunung besar. Bagi yang sering merokok, mungkin akan ngos-ngosan karena jalannya sangat menanjak, meski di kiri kanan pohon rimbun tetap saja keringatan. 

Mungkin, selama kurang lebih satu setengah jam kami mendaki dengan berhenti beberapa kali. Nafas megap-megap, jantung berdebar kencang, keringat mulai bercucuran, kepala mulai pusing, rasa haus hebat datang, rasanya minum satu botol air mineral saja kurang. Apalagi tas yang berisi pakaian membuat perjalanan begitu berat dan melelahkan.

Tiba di atas, kami merebahkan diri di atas tumpukan daun bambu yang dinaungi pohonnya untuk menghilangkan rasa lelah. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang untuk ke tempat-tempat wisata lainnya yang jarang dijumpai orang.

Keluar dari Desa Adat Banceuy, kami tersasar, bukan malah menemukan jalan raya seperti yang awal kami lewati justru masuk ke hutan-hutan rimba. Kami tak berhenti bertanya, kepada warga sekitar dan akhirnya menemukan Indomaret pertanda kami sudah keluar dari desa. 

Di dalam minimarket itu, kami membeli sejumlah makanan dan minuman untuk mengisi tenaga. Kebetulan ada penjual jus buah, kami pun membeli segelas untuk menyegarkan badan yang kelelahan. 

Teman saya dengan bahasa sundanya bertanya kepada penjual jus buah tentang arah jalan menuju Bandung. Ternyata, bukan jalan besar Ciater yang kami lalui seperti awal mula kami menuju Curug Bentang malah menuju Sumedang.

Salah, memang salah bertanya kepada orang yang baru dua pekan tinggal di Subang. Kami berkeliling hingga melewati Sumedang, hampir menuju Majalengka dan Cirebon. 

Lantaran lelah di perjalanan karena tidak menemukan kawasan Ciater, kami berhenti disebuah rumah makan sunda dengan pemandangan yang begitu menawan. Istirahat makan dan bertanya lagi kepada pemilik warung tentang jalan menuju Bandung. 

Dia memberitahu kita harus melewati Citali, dari tempat kami lurus saja nanti keluar ke Ujung Berung lalu Bandung. Oh MY GOD! Ujung Berung, itu jauh banget!!! karena pemandangan sekitar sangat indah jadi kami jalan dengan perasaan bahagia. Sampai di Citali, ternyata kami menemui banyak kontainer dengan tekstur jalan yang kurang bagus, berdebu dan berbatu sebab ada pembangunan jalan.

Selama tiga jam lebih tangan dibakar matahari, panas, berdebu dan banyak sekali kontainer yang melintas. Harus ekstra hati-hati membawa kendaraan seperti motor saat melewat jalan itu. 

Akhirnya kami sampai di Bandung, dan urung untuk melanjutkan perjalanan wisata selanjutnya. Kami lebih memilih untuk beristirahat dan pergi ke tempat refleksi untuk meringankan otot-otot kaki yang kaku selama di perjalanan tadi.

Lewat perjalanan panjang itu saya mendapatkan banyak pelajaran, beberapa di antaranya saya harus mampu ikut melestarikan dan menjaga alam semesta dari tangan-tangan jahat, harus lebih banyak bersyukur lagi kepada Allah SWT, harus lebih bisa melawan hawa nafsu, bisa mengendalikan emosi, harus bisa melewati masalah dengan baik lewat bantuan doa bukan malah lari dari masalah, serta harus lebih bersabar lagi karena Tuhan punya cara unik untuk membuat kita bahagia setelahnya.