Melihat Bintang Jatuh ke Bumi dari Bukit Moko
10:34 PMBerada di 1442 meter di atas permukaan laut (MDPL), Bukit Moko merupakan tempat yang paling tepat untuk melihat gemintang bertebaran ...
Curug Bentang : Bertualang ke Tempat Tujuh Cakra Sunda
9:22 PMCurug Bentang selain indah, ternyata kaya akan mitos. Konon air terjun itu tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno bertemu Nyi Ror...
Saat menuju lokasi Curug Bentang, sepanjang jalan akan menemui jalanan berbatu penuh pasir dengan kontur menanjak dan menurun. Dari jalan Ciater menuju Desa Banceuy sekira 10 hingga 15 km lebih dan bisa dilalui menggunakan sepeda motor. Namun, untuk menuju ke dalam curug, kita harus berjalan kaki kurang lebih satu jam dari atas gunung ke bawah, sebab letaknya di bawah kaki gunung.
Saya dan kawan dari Bandung, sempat nyasar ke beberapa tempat. Karena, mencari Desa Adat Banceuy yang terpencil, kira-kira kami bertanya kepada warga sekitar sebanyak empat kali dan akhirnya bertemu dengan Desa Adat Banceuy.
Ternyata, dari Desa Adat Banceuy, perjalanan tidak berjalan mulus, kami masih tetap tersasar hingga Desa Sanca kemudian bertanya lagi kepada warga sekitar. Beruntung, kawan saya warga asli Bandung, saat bertanya tak begitu kesulitan, karena bahasa mereka sama.
Setelah diberitahu warga ihwal akses jalan menuju Curug Bentang, kami mendapatkan jalan alternatif. Ya, saking alternatifnya, sampai adrenalin saya diuji, karena, jalanan menurun sangat curam dengan batuan tajam serta pasir. Kemudian bertemu lagi dengan jalan menanjak yang sangat terjal, saya hampir putus asa, tertinggal jauh dengan teman saya karena tidak berani untuk melewati turunan curam itu.
Matahari sudah tidak bersahabat, cuaca panas membakar badan saya namun angin membuat badan yang berkeringat kembali segar saat berteduh di bawah pohon. Pada saat saya berhenti, tidak ada satu orangpun yang melintas, hanya ada sawah, hutan di kiri dan kanannya. Ingin kembali pulang rasanya, karena kawan saya itu meninggalkan saya tanpa mempedulikan ketakutan yang bergelayut di diri saya.
Mungkin, dia melakukan itu untuk membuat saya melempar jauh-jauh perasaan takut atau tidak mampu. Pasalnya, pada saat terdesak manusia kecil bisa jadi raksasa dan mampu membalikan gunung dengan jemarinya.
Alhasil, saya memberanikan diri, dengan bekal doa, saya akhirnya menuruni jalan itu. Satu masalah usai dilewati, masalah selanjutnya hadir dan lebih besar. Saya melihat sebuah jalanan menanjak cukup tinggi sekira 10 meter mungkin lebih. Melihat jalan itu, saya tak berhenti menelan ludah, sambil membaca doa saya mulai menggas motor dengan sekuat tenang. Beruntung, motor yang saya pakai adalah motor bebek, dengan memainkan gigi motor tanjakan penuh batu itu berhasil dilampaui dengan apik, meski motor sempat ngadat sebentar.
Saya menghadapi jalanan curam seperti itu sebanyak tiga sampai empat kali. Ternyata, masih ada masalah yang begitu menghebohkan, yakni melewati jalan setapak yang di kiri dan kanannya adalah jurang menggunakan sepeda motor.
Rasanya ingin menangis, kesal, lelah, lapar menggelayuti pikiran saya. Mungkinkah saya bisa melampaui jalanan itu? lagi, kekuatan doa menyelamatkan saya dan bisa melewatinya tanpa ada rasa takut.
Setelah melewati itu semua selama satu jam lebih, kemudian kami melihat pohon bambu besar yang menghalangi jalan. Dari balik bambu itu terdapat gapura usang bertuliskan Curug Bentang, kondisinya sangat tidak terawat.
Satu meter dari gapura itu terdapat bangunan-bangunan gubuk mungkin sebelumnya, tempat ini merupakan tempat wisata yang sangat terawat. Namun, ketika kami mengunjungi tempat itu sangat sepi dan hanya kami berdua yang berada di sana.
Daun bambu kering menjadi alas jalan kami sepanjang jalan, sebetulnya jalan ke Curug Bentang ada jalan setapak yang sudah disemen warga untuk memudahkan masyarakat turun ke air terjun. Tetapi, saat ini, semen-semen itu sebagian sudah retak. Alhasil, kami memarkirkan motor di atas jalanan semen itu dan menuruni jalan dengan berjalan kaki.
Karena jalan menuju curug menurun, kami bisa melampauinya sekira setangah jam sampai 45 menit dengan beristirahat sejenak sambil mengabadikan curug dari atas.
Pulang Nyasar ke Sumedang
Setelah menuruni gunung dengan cepat menuju curug, pulangnya kami harus mendaki gunung besar. Bagi yang sering merokok, mungkin akan ngos-ngosan karena jalannya sangat menanjak, meski di kiri kanan pohon rimbun tetap saja keringatan.
Mungkin, selama kurang lebih satu setengah jam kami mendaki dengan berhenti beberapa kali. Nafas megap-megap, jantung berdebar kencang, keringat mulai bercucuran, kepala mulai pusing, rasa haus hebat datang, rasanya minum satu botol air mineral saja kurang. Apalagi tas yang berisi pakaian membuat perjalanan begitu berat dan melelahkan.
Tiba di atas, kami merebahkan diri di atas tumpukan daun bambu yang dinaungi pohonnya untuk menghilangkan rasa lelah. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang untuk ke tempat-tempat wisata lainnya yang jarang dijumpai orang.
Keluar dari Desa Adat Banceuy, kami tersasar, bukan malah menemukan jalan raya seperti yang awal kami lewati justru masuk ke hutan-hutan rimba. Kami tak berhenti bertanya, kepada warga sekitar dan akhirnya menemukan Indomaret pertanda kami sudah keluar dari desa.
Di dalam minimarket itu, kami membeli sejumlah makanan dan minuman untuk mengisi tenaga. Kebetulan ada penjual jus buah, kami pun membeli segelas untuk menyegarkan badan yang kelelahan.
Teman saya dengan bahasa sundanya bertanya kepada penjual jus buah tentang arah jalan menuju Bandung. Ternyata, bukan jalan besar Ciater yang kami lalui seperti awal mula kami menuju Curug Bentang malah menuju Sumedang.
Salah, memang salah bertanya kepada orang yang baru dua pekan tinggal di Subang. Kami berkeliling hingga melewati Sumedang, hampir menuju Majalengka dan Cirebon.
Lantaran lelah di perjalanan karena tidak menemukan kawasan Ciater, kami berhenti disebuah rumah makan sunda dengan pemandangan yang begitu menawan. Istirahat makan dan bertanya lagi kepada pemilik warung tentang jalan menuju Bandung.
Dia memberitahu kita harus melewati Citali, dari tempat kami lurus saja nanti keluar ke Ujung Berung lalu Bandung. Oh MY GOD! Ujung Berung, itu jauh banget!!! karena pemandangan sekitar sangat indah jadi kami jalan dengan perasaan bahagia. Sampai di Citali, ternyata kami menemui banyak kontainer dengan tekstur jalan yang kurang bagus, berdebu dan berbatu sebab ada pembangunan jalan.
Sanghyang Heuleut : Merasakan Sensasi Tempat Mandi Dayang Sumbi
7:09 PMSanghyang Heuleut merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Kembang, Banduung. Mata kita akan dimanjakan dengan sejumlah pa...
Tanpa basa basi atau malu, saya akhirnya membuka baju di hadapan kawan-kawan baru saya itu. Salah satu teman saya yang mengenakan jilbab dengan percaya diri membuka jilbabnya dan hanya mengenakan kaos pendek di hadapan banyak pria. Mungkin perasaannya saat itu sama seperti saya, lelah, namun itu semua terbayar dengan menyentuh air sungai yang dingin disertai pemandangan indah.
Badan yang tadinya seperti dibakar matahari, pada saat menyelam ke dalam air seperti diguyur air es, adem. Nikmat luar biasa, rasa lelah, putus asa, depresi di perjalanan tadi hilang seketika, saya kemudian berteriak mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah bisa diberi kesempatan menikmati hasil ciptaannya.
Setelah hampir satu jam lebih menikmati Sanghyang Heuleut kami akhirnya pulang dengan rute yang sama. Oiya, untuk masuk ke Sanghyang Heuleut pendaki tidak perlu mengeluarkan uang, karena surga kecil di bumi itu gratis tidak ada tiket untuk masuk ke dalamnya.
Yang perlu disiapkan hanya uang bensin dan makan untuk mengisi tenaga saat menempuh jarak 40 km lebih dari Bandung Kota menuju Cipatat, Cimahi, Bandung Barat. Jangan lupa untuk membawa air mineral selama perjalanan karena anda bisa terkena dehidrasi karena jaraknya cukup lumayan dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Selain itu, bagi pengendara motor jangan lupa pakai masker penutup wajah dan sarung tangan, agar paru-paru tidak kena polusi dan kulit tangan menghitam. Sebab, saat melewati jalan Cipatat, Citatah dan Raja Mandala, Anda akan bertemu dengan ratusan kontainter pengangkut batu besar. Debu dari batuan sedimen itu sangat membahayakan untuk paru-paru Anda, cuaca panas juga dapat merusak kulit tangan saat melintasi jalan tersebut.
Sanghyang Poek : Ada Berlian di Kegelapan Tuhan Zaman Purba
8:24 AMSanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek seperti anak dan ibu yang tak pernah bisa terpisahkan, sedarah sepenangggungan. Jika berwisata men...
Sanghyang Tikoro : Menyentuh Tenggorokan Tuhan di Bumi Pasundan
4:46 AMDahulu kala, Kota Bandung merupakan danau purba yang menyimpan banyak kekayaan alam di dalamnya. Salah satunya Sanghyang Tikoro atau da...
Bisa menyentuh tenggorokan Tuhan di Bumi Pasundan tentunya membuat saya bangga. Mungkin, saya adalah orang ke sekian yang menginjakkan kaki di tempat paling misterius itu. Sesampainya di sana, tak ada kata lain selain mengucap syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan kekayaan alam yang begitu indah.
Jarak tempuh menuju sungai Sanghyang Tikoro dari Bandung Kota, diperkirakan mencapai 30 hingga 40km atau satu sampai duajam perjalanan tergantung kondisi jalan dan seberapa cepat Anda membawa kendaraan. Setelah menemukan Desa Citatah, Anda akan disajikan dengan debu jalanan yang tebal, panas menyengat, dan ratusan truk kontainer pengangkut batu yang mengantri menuju pabrik. Iya, karena wilayah tersebut terkenal dengan produsen batu alam yang digerus dari gunung-gunung kapur dan batu di area tersebut.
Di sisi jalan, Anda akan menemukan pemandangan paling tidak mengasyikan saat melewati jalan tersebut. Karena, hampir di sisi jalan terdapat pabrik pembuatan ukiran batu, dari marmer, kapur, batu alam hingga batu sedimen. Jalanannya pun cukup terjal penuh kelok, dan harus berhati-hati melewati jalan tersebut karena banyak pasir dan debu dari pabrik-pabrik batu alam itu yang bisa membuat Anda sakit mata atau terpeleset saat mengendarai motor.
Tidak hanya bersyukur, saya juga tak berhenti-henti berdzikir, karena saya orang baru yang menginjakkan kaki di sungai tersebut. Karena, menurut mitos yang beredar, sungai yang tidak tidak diketahui ujungnya itu selalu meminta tumbal kepada siapapun yang datang ke sana. Pesannya adalah, kita tidak boleh sombong terhadap segala sesuatu, termasuk ke tempat-tempat seperti Sanghyang Tikoro. Jika kita terlalu sombong atau melakukan hal-hal aneh di sana akan terkena mara bahaya sepulang dari sana.
Kandang Kambing dan Kopi Ungaran Paling Bir
1:01 PMTahun baru Islam 1437/2015, aku merayakannya di Kota Hujan, bersama para guru besar menulis Kelas Anggit Narasoma. Ya, aku menyebut mere...

Tahun baru Islam 1437/2015, aku merayakannya di Kota Hujan, bersama para guru besar menulis Kelas Anggit Narasoma. Ya, aku menyebut mereka guru besar, atau suhu karena memang mereka yang mengajarkanku bagaimana menulis sefiksi dan sedramatis mungkin. Sudah hampir tiga tahun lebih jalinan silaturahmi itu tidak putus, meski berpisah jarak tapi mereka sudah aku anggap sebagai keluarga besarku, Bogor menjadi tempat aku minggat dari kebisingan Ibukota.
Di sana, bukan hanya untuk bertatap muka saja, tapi juga berdiskusi seputar penulisan dan buku bersama Om Erha Limanov, Abah Zoer, Om Matahari Timoer, Om Adi 'Wong Kamfung' Purwanto, Mami Utami Utar, Si Cantik Erfano Nalakiano, dan Si Geulis Essenza Quranic Bachresy meski kadang hanya segelintir yang datang.
Biasanya kami kumpul di Saung Menulis yang ditinggali oleh Om Erha Limanov, tepatnya di Jalan Indraprasta. Di tempat pertapaannya itu, aku mendapat wawasan tak sedikit, dari mulai batu akik hingga cara menanam yang baik dan benar. Cukup beri dia sajen sebungkus rokok merek Dunhill Putih dan kopi, pria yang selalu punya ciri khas membunyikan kentutnya itu akan memberimu jutaan wawasan tentang filsafat hidup bahkan filsafat ketuhanan.
Mulanya, niatku ke Bogor di tanggal merah ini adalah menemui Om Manov untuk membayar keripik ubi yang aku beli darinya, dan sesampainya di sana beliau sibuk dengan tanaman dan berselancar di dunia maya, dibanding menanggapi kemolekan tubuhku.
Satu hal yang menarik, jika Om Manov tidak sedang asyik membuka laman sosial Facebook, dan Youtube mungkin aku tidak akan mengenal musisi jalanan seperti Estas Tonne. Dia merupakan seorang pengamen bergaya Indian Gipsi yang berkeliling dunia dengan alat musik petiknya, gitar. Estas sukses membuatku terkesima dengan petikan melodi gitarnya yang sangat meditatif.
Aku mendengarkan musik-musik yang dimainkan oleh Estas Tonne hingga tidak mengetahui hujan deras turun sore itu, sedangkan pria dengan perut buncit itu sibuk di depan televisi dan mondar-mandir ke belakang untuk melihat tanaman-tanamannya.
Tepat pukul 18.10 WIB, aku memohon kepada Om Manov untuk ke Kandang Kambing II, setelah dibujuk rayu akhirnya, dia sudi berangkat dengan menggunakan motor bebek berwarna hitam itu. Pada saat kami berada di jalan menuju Kandang Kambing rintik hujan masih turun. Karena, orang Jakarta ini ngebet sekali ingin ke sana, meski basah kami melanjutkan perjalanan dan menempuh jarak cukup jauh.
Tiba di Kandang Kambing, Om Manov urung nimbrung sebab ada saudaranya datang ke rumah yang sedang berduka, dan ada masalah serius yang harus diperbincangkan.
Untuk diketahui, Kandang Kambing merupakan sebutan untuk kediaman keluarga Adi 'Wong Kamfung' Purwanto dan Utami Utar, keduanya merupakan Dosen di universitas terkemuka di Bogor dan salah satu murid paling tua di Kelas Anggit Narasoma pada saat itu.. hahaha *Maap OM, MAM* :D
Disebut Kandang Kambing, bukan karena banyak kambing atau bau kambing di rumahnya, mungkin ada alasan atau maksud lain mengapa nama tersebut disematkan untuk tempat tinggalnya. Hingga saat ini belum aku ketahui alasan utama mereka menamai Kandang Kambing, mungkin dahulu, rumah mereka berantakan seperti Kandang Kambing, entahlah. Setahuku, di Kandang Kambing selalu tersaji kopi paling Indonesia nan istimewa yang disuguhkan mereka.
Sudah sejak lama aku ingin sekali mampir ke Kandang Kambing, sebelumnya mereka tinggal di Jalan Dramaga dan belum sempat aku bersilaturahmi ke sana, baru kemarin mampir ke Kandang Kambing II yang berlokasi di dekat Kampus BEC.
Alasanku nafsu ke Kandang Kambing adalah melihat cuit-cuit Om Adi 'WKF' Purwanto yang selalu memamerkan beragam jenis kopi, dari luar dan dalam negeri, aku penasaran dengan citarasanya, ingin sekali mencicipi barang seteguk kopi-kopi itu di Kandang Kambing. Pasalnya, hampir seluruh masyarakat Indonesia-lebay si Raiza-selalu memposting gambar minum kopi di Kandang Kambing, aku kan jadi iri.
Ada kesempatan ke sana meski sudah malam dan hujan, aku langsung menagih hutang Om WKF-begitu dia disapa-untuk menyuguhkanku kopi Afrika. Tapi sayang kopi itu sudah habis, kemudian dia mengeluarkan jenis kopi baru yang didapatkannya dari seorang sahabat di Ungaran, Jawa Tengah kemudian menawarkan kepadaku sebagai sesajen tamu.
Sebelum menyuguhkan kopi itu, dia menceritakan tentang jenis kopinya yakni perpaduan antara Robusta, Arabica, Excelsa. Pernah coba? saya menjamin hanya segelintir orang yang sudah merasakannya. Sebab, kopi itu hanya ada di Ungaran dan Kandang Kambing.
Om WKF mengatakan, setiap orang yang menyeruput kopi racikan sahabatnya itu pasti bakal pusing hebat hingga pingsan karena memiliki kadar kafein dan tingkat keasaman yang tinggi. Mendengar hal itu, aku langsung menelan ludah, takut pingsan diseruputan pertama. Pasalnya, pria dengan kacamata bak profesor itu mengisahkannya begitu serius dan dramatik sekali, aku jadi ketakutan sendiri untuk mencoba kopi jenis baru itu.
"rooongrrooongroooong," bunyi mesin giling kopi terdengar dari teras Kandang Kambing, jelas saja, lah wong Om WKF menggilingnya di samping pintu masuk ya kedengaran lah. Wajahku langsung tegang dan menghampiri Om WKF, melihat butiran-butiran mirip vagina berwarna hitam pekat gosong itu menjadi bubuk semacam bedak bayi. Lantas aku menciumnya, aromanya sangat khas, dan wajahku masih saja kaku, membayangkan cerita dan bagaimana rasa kopi aneh itu.
"klontang, gabruuk, byaar, sssttt...," dari dalam rumah aku mendengar seseorang tampaknya sedang sibuk di dapur, mungkin tengah menyiapkan segelas kopi yang baru digiling tadi untuk tamu paling eksotis dari Jakarta ini.
Tiba-tiba seorang pria keluar membawa dua cangkir kopi racikan Robusta, Arabika dan Excelsa. Lantas dia berikan gelas nescafe warna merah kecil kepadaku untuk mencicipi kopi hasil perkawinan antara Robusta, Arabika, dan Excelsa.
Dari aromanya aku sudah dibuat mabuk, bagaimana menyeruputnya? terlebih sudah diceritakan tentang keunikan kopi jenis baru itu. Aku angkat gelasnya kemudian mencium aroma terlebih dahulu, karena belum berani untuk meneguknya.
"Aku takut," kataku. Pasangan suami istri itu malah menertawakanku, dan Om WKF menyuruhku untuk segera meminumnya sambil menjelaskan bahwa buih kopi yang terdapat di gelasku menjelaskan bahwa itu merupakan ciri kopi terbaik di muka bumi dengan tingkat keasaman atau gas yang tinggi.
Lantas aku memberanikan diri untuk menyeruputnya, voila.... ternyata enaak tidak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya setelah diceritakan ihwal kopi yang bisa membuat orang pingsan jika memiliki maag atau jarang meminum kopi. Aku seperti dibawa berimajinasi ke perkebunan kopi, rasanya seperti surga, melayang, dan ketagihan!
Segelas penuh aku habiskan ditegukan ketiga. Sisa tinggal ampasnya saja, konon di Kandang Kambing keluarga Dosen itu kerap ngemil kopi baik masih berbentuk butiran maupun ampas kopinya itu sendiri. Aku mencoba bereksperimen dengan memanfaatkan ampas kopi untuk dijadikan selai roti.
"Nyam nyam nyam," aku memakan roti yang sudah diberi ampas kopi, rasanya sangat enak tak pahit atau masam. Ketika potongan terakhir, kepalaku mendadak pusing kecil, tepat di bagian samping dan dahi, seperti memutar tapi tidak pusing memabukkan. Merem melek, sambil mengunyam roti selai ampas kopi karena pusing, tiba-tiba mau muntah? apa karena aku belum makan? tak mungkin, aku sudah makan banyak tadi, apa karena maagku kambuh karena pamali minum kopi bagi orang berpenyakit maag. Tak mungkin, kopi terbaik itu tidak akan memberikan efek samping, katanya.
Saking enaknya menikmati kopi itu, aku meminta Om WKF membuatkanku kopi segelas lagi, saat aku keluar untuk membeli sebungkus rokok. Ya, karena rokok dan kopi itu suami istri, tak enak rasanya ada kopi tapi tak ada rokok seperti bercinta di atas ranjang tanpa pasangan.
Tiba di rumah, kopi ronde keduaku datang, pas! Sambil membakar batangan tembakau, aku menyeruputnya, mencium aroma kopi Ungaran itu. Hampir setengah gelas aku minum, izin ke kamar mandi, untuk buat air kecil, seketika tanpa beri aba-aba semua yang ada di dalam perutku keluar. Muntah, seperti orang habis minum bir dan vodka berbotol-botol. Setelah muntah, aku justru malah minum lagi meski kepala sudah kliyengan. Sambil cerita tentang pekerjaan dan juga kopi aku menyeruputnya lagi dan lagi.
Habis satu gelas setengah lebih aku menikmati kopimu Tuan Adi WKF Purwanto, terima kasih atas suguhannya. Betul katamu, menikmati kopi memang harus bercerita terlebih dahulu agar saat menyeruputnya memiliki cita rasa yang berbeda.
"Makanya, orang-orang menikmati kopi itu sambil ngobrol, karena memang cocok kopi bersama obrolan itu. Memang harusnya ngopi sambil ngobrol biar asyik," katanya.
Bogor memang selalu membuatku takjub. Terima kasih sudah sudi aku mampir ke Kandang Kambing II Om WKF.
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances