Berada di 1442 meter di atas permukaan laut (MDPL), Bukit Moko merupakan tempat yang paling tepat untuk melihat gemintang bertebaran ...


Berada di 1442 meter di atas permukaan laut (MDPL), Bukit Moko merupakan tempat yang paling tepat untuk melihat gemintang bertebaran di langit dan juga yang tersebar di bumi.

Wisata ke Bandung, kurang afdhol jika belum mampir ke Bukit Moko. Masyarakat Kota Kembang biasanya menyebut Bukit Bintang, karena kita bisa melihat gemerlap bintang di langit dan lampu-lampu penduduk Bandung yang berwarna-warna seperti bintang.

Bagi penyuka fotografi, Bukit Moko sarana paling pas untuk menangkap momen naik dan turunnya matahari. Bulan purnama atau gerhana akan sangat dekat jika dilihat dari Bukit Moko. Apabila cuaca sedang bagus, hamparan pemandangan indah dan pegunungan yang menjulang tinggi menjadi latar belakang apik.

Waktu paling tepat ke Bukit Moko sejak pukul 15.00 WIB hingga 20.00 WIB. Selain bisa mengabadikan sunset, lampu-lampu rumah dan gedung di Bandung sedang cantik-cantiknya.

Selain menyaksikan pemandangan tersebut, mata kita juga akan dimanjakan dengan adanya pemandangan patahan Lembang yang ada di atas Bukit Moko. Untuk melihat patahan Lembang, kita harus berjalan kaki di Bukit Moko selama kurang lebih 30 sampai 45 menit atau lebih tergantung kemampuan.


Di atas Bukit Moko, kita akan disambut dengan hamparan puluhan ribu pohon pinus yang menjulang tinggi dan orang pacaran. Ops, hahaha memang benar, sebagian besar pengunjung Bukit Moko membawa pasangan, mungkin hanya saya yang pada saat datang sendirian. Pasalnya, belum sampai ke lokasi, hawa dingin sudah menelusup masuk ke dalam tulang. Saking dinginnya, rasanya tidak cukup memakai jaket, harus membawa pasangan agar tidak kedinginan di atas bukit. 

Tidak hanya orang yang berpacaran di sana, pecinta alam dan fotografi landscape dengan peralatan canggih mereka juga banyak. Mereka datang tak lain untuk camping dan mengabadikan momen sunset dan sunrise.

Mengunjungi Bukit Moko tidak seperti yang dibayangkan, harus manjat-manjat, mendaki tebing atau berjalan merayap-rayap. Di sana sudah jalanannya sudah di paving block, sehingga wisatawan dapat dengan mudah berjalan kaki dari tempat parkir ke atas bukit. Selain itu, juga sudah tersedia kamar mandi, mushalla, gasibu-gasibu dan juga tempat duduk di pinggir bukit untuk menikmati pemandangan alam Bandung.


Pada saat saya mengunjungi Bukit Moko, cuaca sedang cerah di sore hari. Namun sayang, pemandangannya kurang megah karena terhalang dengan asap kiriman dari Kalimantan dan Riau sehingga menutupi panorama puncak gunung yang tersebar di Jawa Barat dan matahari terbenam. Akhirnya saya memutuskan untuk memotret beberapa spot di dalam bukit dan hasilnya lumayan.

Meski datang sendirian, ternyata di atas Bukit saya bertemu banyak teman baru. Salah satunya, Pak Dudung ketua pengelola Bukit Moko. Perkenalan kami bermula ketika dia melihat saya sendirian duduk-duduk sambil merokok di bawah pohon pinus dekat pintu masuk. Kemudian, dia menghampiri saya untuk menawarkan diri memotret diri saya. Pak Dudung bertanya, mengapa saya datang sendirian? saya menjawabnya dengan santai, hanya ingin sendiri dan biasa ke mana-mana sendiri. 

Sepanjang di Bukit Moko saya ditemani Pak Dudung yang merupakan Kepala Desa di perkampungan Cimenyan. Dia menceritakan banyak tentang dirinya dan Bukit Moko itu sampai akhirnya menawarkan saya meminum kopi di kediamannya. 

Pak Dudung mengaku telah merawat dan melestarikan hutan pinus di atas Bukit Moko itu selama kurang lebih 20 tahun. Dengan bekerjasama dengan Perhutani dan Pemkot Bandung, alhasil Bukit Moko yang tadinya hanya hutan rimba menjadi tempat wisata. 


Setelah hampir tiga jam menghirup oksigen di Bukit Moko, saya akhirnya turun gunung dan mampir ke kedai kopi untuk makan, karena badan sudah tidak enak terlalu dingin perlu dihangatkan dengan kopi dan semangkuk mie rebus. Sekira 20 meter dari pintu masuk Bukit Moko ada sebuah kedai yang menjual makanan dengan cara voucher. Kita harus membeli voucher seharga Rp.25 ribu dan akan disajikan aneka makanan, berikut dua macam air.

Oiya, untuk masuk ke dalam Bukit Moko kita harus membayar sebesar Rp.10 ribu. Bagi yang ingin bermalam di sana, pihak pengelola menyediakan tenda berukuran besar dan kecil dari harga Rp.150 ribu hingga Rp. 250ribu. 

Mata saya dikejutkan dengan tampilan malam Bukit Moko. Makan malam terasa sangat nikmat lantaran sambil menyaksikan lampu-lampu Bandung yang satu persatu mulai menyala, dilihat dari Bukit Moko itu terlihat seperti gemerlap bintang dan sayang jika tidak diabadikan.


MENUJU Bukit Moko

Ada dua jalur menuju Bukit Moko, melewati Dago Pakar atau Jalan Padasuka. Karena saya baru pertama kali mengunjungi Bukit Moko, saya diberitahu oleh warga sekitar untuk mengambil jalan lewat Dago, di samping jalannnya sudah bagus dan lebih cepat sampai. 

Tapi ternyata, saya harus melewati jalan menuju Restoran Dago Pakar, kemudian Tebing Keraton ke atas lagi. Bukannya Bukit Moko yang saya dapatkan malah bukit gersang dan perkampungan warga. Maklum orang baru, nyasar merupakan nama tengah mereka. Akhirnya, saya bertanya kepada penduduk, seorang petani bilang lewat dua bukit lagi dengan jurang di kanan jalan.

Saya menelan ludah, karena saya sangat benci jalan turunan, berpasir dan berbatu, itu sangat berbahaya bagi yang tidak ahli membawa kendaraan roda dua manual. Hampir di setiap turunan saya meminta tolong mamang-mamang yang berada di bawah bukit untuk membantu saya menurunkan motor. 

Jalan yang saya lewati selama kurang lebih satu jam setengah itu hanya jalan setapak, dengan jurang di samping kanannya. Konon, banyak orang yang jatuh di sana jika tidak berhati-hati, mengingat jalan tersebut masih jelek penuh batu dan berpasir.

Pulangnya, saya memilih melewati Jalan Padasuka, dari Bukit Moko hanya tinggal lurus saja, tidak berkelok-kelok seperti awal mula saya mengunjungi Bukit Moko. Iya lurus saja dengan menuruni bukit, turunannya sangat curam, sedikit pencahayaan jalan, hanya lampu sorot dari kendaraan. Parahnya lagi, jalanan yang hanya berukuran 3 meter itu dua arah dan tidak ada pembatas jalan maupun penjaga jurang, jadi kalau kita tidak berhati-hati akan berbahaya.

Hikmahnya adalah, saya bisa melihat pemandangan alam Bandung yang begitu memesona. Saya diberi kesabaran yang begitu besar oleh Allah SWT dan pikiran dicerahkan bahwa setiap masalah itu pasti ada solusinya, kita mau menghadapinya atau malah balik arah atau kabur? tergantung kita. Ketika kita menghadapi masalah itu dengan baik, bersabar, ikhlas sambil meminta pertolongan kepada Allah SWT, kita akan mendapatkan kesuksesan, mendapatkan apa yang kita cita-citakan dan impikan.




Curug Bentang selain indah, ternyata kaya akan mitos. Konon air terjun itu tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno bertemu Nyi Ror...


Curug Bentang selain indah, ternyata kaya akan mitos. Konon air terjun itu tempat di mana Presiden Pertama RI Soekarno bertemu Nyi Roro Kidul dan meminta bantuannya untuk menyelamatkan Indonesia dari serangan musuh.

Setiap tempat di Jawa Barat memiliki cerita rakyat atau lebih dikenal dengan legenda. Percaya atau tidak itu urusan belakangan, yang penting bisa menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Seperti di Curug Bentang yang terletak di Desa Adat Banceuy, Subang, Jawa Barat menyimpan jutaan cerita mitos. Padahal jika kita melihatnya dari sisi pemandangan alam, Curug Bentang merupakan tempat paling tepat untuk melarikan diri dari kebisingan Ibukota, sebab tempatnya tersembunyi dan amat sangat jarang orang datang ke sana. 

Menurut bahasa, Curug memiliki arti air terjun sedang Bentang adalah bintang atau gugusan bintang. Secara terminologi Curug Bentang merupakan air terjun tempat pantulan cahaya bintang-bintang dari langit. Jika dilihat pada malam hari, air terjun ini akan berkilauan layaknya bintang-bintang di langit.

Curug Bentang ada kaitannya dengan kisah Tangkuban Parahu, dan Gunung Burangrang selain itu curug ini juga berdekatan dengan Desa Adat Banceuy yang terkenal dengan cerita Raden Syaikh Jamaluddin akrab disapa Aki Leutik atau Kakek Kecil disebut Leutik atau Keil karena tubuhnya hanya sebesar biji dan mampu masuk lewat lubang jarum.

Air terjun ini juga dikaitkan dengan kisah Bung Karno, lantaran presiden pertama RI itu kerap mengunjungi Curug Bentang untuk mencari ilmu kenegaraan lewat ajaran Padepokan Prabu Siliwangi yang berada di Subang dan untuk meminta bantuan Tuhan lewat perantara Nyi Roro Kidul dalam menyelamatkan Indonesia dari serangan musuh. Nama Curug Bentang ini bukan diambil secara asal, ada sejarahnya, konon Presiden Soekarno mendapatkan tujuh cakra sunda dari bintang di langit saat bersemadi di tempat itu.

Konon, air terjun itu dijaga oleh tujuh bidadari yang menjelma sebagai ular besar dengan sisik terbalik. Ke tujuh bidadari itu yang menjaga Bung Karno saat melakukan samadi di Curug Bentang. Hingga saat ini, air terjun tersebut masih dijaga oleh tujuh ular dan juga Aki Leutik.

Mitos lainnya adalah di dasar air Curug Bentang dipercaya terdapat harta karun melimpah dan jika diambil bisa melunasi hutang-hutang Indonesia. Namun, belum ada orang yang berani menyelam ke dalam air tersebut, karena tidak mengetahui seberapa dalam air tersebut. Dari cerita rakyat setempat, ujung airnya menyambung ke Laut Pantai Selatan dan dekat dengan kerajaan Nyai Roro Kidul.

Mendengar cerita rakyat itu, banyak masyakarat dari berbagai wilayah datang untuk melakukan ritual-ritual seperti yang dilakukan Bung Karno. Tujuannya tak lain, untuk mendapatkan kekayaan, pertolongan agar terhindar dari marabahaya oleh penguasa air terjun yakni Nyai Ratu Timun, Kembang Kendis, Klenting Jawa, Nyai Masayu Purbaningrum, Ambar Laweh, Melalur Ayu dan Semiluh Taman.

Tak ayal, saat mengunjungi air terjun Bentang ini, terdapat bekas sasajen di kiri dan kanannya. 


Menuju Lokasi

Saat menuju lokasi Curug Bentang, sepanjang jalan akan menemui jalanan berbatu penuh pasir dengan kontur menanjak dan menurun. Dari jalan Ciater menuju Desa Banceuy sekira 10 hingga 15 km lebih dan bisa dilalui menggunakan sepeda motor. Namun, untuk menuju ke dalam curug, kita harus berjalan kaki kurang lebih satu jam dari atas gunung ke bawah, sebab letaknya di bawah kaki gunung.

Saya dan kawan dari Bandung, sempat nyasar ke beberapa tempat. Karena, mencari Desa Adat Banceuy yang terpencil, kira-kira kami bertanya kepada warga sekitar sebanyak empat kali dan akhirnya bertemu dengan Desa Adat Banceuy. 

Ternyata, dari Desa Adat Banceuy, perjalanan tidak berjalan mulus, kami masih tetap tersasar hingga Desa Sanca kemudian bertanya lagi kepada warga sekitar. Beruntung, kawan saya warga asli Bandung, saat bertanya tak begitu kesulitan, karena bahasa mereka sama. 

Setelah diberitahu warga ihwal akses jalan menuju Curug Bentang, kami mendapatkan jalan alternatif. Ya, saking alternatifnya, sampai adrenalin saya diuji, karena, jalanan menurun sangat curam dengan batuan tajam serta pasir. Kemudian bertemu lagi dengan jalan menanjak yang sangat terjal, saya hampir putus asa, tertinggal jauh dengan teman saya karena tidak berani untuk melewati turunan curam itu. 

Matahari sudah tidak bersahabat, cuaca panas membakar badan saya namun angin membuat badan yang berkeringat kembali segar saat berteduh di bawah pohon. Pada saat saya berhenti, tidak ada satu orangpun yang melintas, hanya ada sawah, hutan di kiri dan kanannya. Ingin kembali pulang rasanya, karena kawan saya itu meninggalkan saya tanpa mempedulikan ketakutan yang bergelayut di diri saya. 

Mungkin, dia melakukan itu untuk membuat saya melempar jauh-jauh perasaan takut atau tidak mampu. Pasalnya, pada saat terdesak manusia kecil bisa jadi raksasa dan mampu membalikan gunung dengan jemarinya. 

Alhasil, saya memberanikan diri, dengan bekal doa, saya akhirnya menuruni jalan itu. Satu masalah usai dilewati, masalah selanjutnya hadir dan lebih besar. Saya melihat sebuah jalanan menanjak cukup tinggi sekira 10 meter mungkin lebih. Melihat jalan itu, saya tak berhenti menelan ludah, sambil membaca doa saya mulai menggas motor dengan sekuat tenang. Beruntung, motor yang saya pakai adalah motor bebek, dengan memainkan gigi motor tanjakan penuh batu itu berhasil dilampaui dengan apik, meski motor sempat ngadat sebentar.

Saya menghadapi jalanan curam seperti itu sebanyak tiga sampai empat kali. Ternyata, masih ada masalah yang begitu menghebohkan, yakni melewati jalan setapak yang di kiri dan kanannya adalah jurang menggunakan sepeda motor. 

Rasanya ingin menangis, kesal, lelah, lapar menggelayuti pikiran saya. Mungkinkah saya bisa melampaui jalanan itu? lagi, kekuatan doa menyelamatkan saya dan bisa melewatinya tanpa ada rasa takut. 

Setelah melewati itu semua selama satu jam lebih, kemudian kami melihat pohon bambu besar yang menghalangi jalan. Dari balik bambu itu terdapat gapura usang bertuliskan Curug Bentang, kondisinya sangat tidak terawat.

Satu meter dari gapura itu terdapat bangunan-bangunan gubuk mungkin sebelumnya, tempat ini merupakan tempat wisata yang sangat terawat. Namun, ketika kami mengunjungi tempat itu sangat sepi dan hanya kami berdua yang berada di sana.  

Daun bambu kering menjadi alas jalan kami sepanjang jalan, sebetulnya jalan ke Curug Bentang ada jalan setapak yang sudah disemen warga untuk memudahkan masyarakat turun ke air terjun. Tetapi, saat ini, semen-semen itu sebagian sudah retak. Alhasil, kami memarkirkan motor di atas jalanan semen itu dan menuruni jalan dengan berjalan kaki.

Karena jalan menuju curug menurun, kami bisa melampauinya sekira setangah jam sampai 45 menit dengan beristirahat sejenak sambil mengabadikan curug dari atas.


Seperti biasanya, untuk menghilangkan rasa lelah, saya membuka baju dan bertakbir sekeras mungkin dari atas gunung untuk bersyukur kepada Allah karena perjalanan panjang kami mencapai titik akhir. Air sungai yang begitu dingin meski panas matahari seperti menyayat-nyayat kulit seperti memberikan kami relaksasi.

Berendam kurang lebih satu jam di dalam air tanpa berenang ke tengah air. Sebab, mitos masyarakat setempat membuat kami takut dan urung melakukan hal-hal aneh di tempat paling disakralkan oleh Adat Banceuy itu. Terlebih, tidak banyak orang tahu seberapa tinggi air sungai di Curug Bentang, sempat ada yang uji coba dengan mengukurnya dengan pohon bambu setinggi 30 meter lebih namun belum juga mentok ke dasar air.

Usai mengabadikan surga tersembunyi di Subang itu, kami akhirnya bergegas pulang. Sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk berwudhu untuk menyegarkan kembali badan.


Pulang Nyasar ke Sumedang

Setelah menuruni gunung dengan cepat menuju curug, pulangnya kami harus mendaki gunung besar. Bagi yang sering merokok, mungkin akan ngos-ngosan karena jalannya sangat menanjak, meski di kiri kanan pohon rimbun tetap saja keringatan. 

Mungkin, selama kurang lebih satu setengah jam kami mendaki dengan berhenti beberapa kali. Nafas megap-megap, jantung berdebar kencang, keringat mulai bercucuran, kepala mulai pusing, rasa haus hebat datang, rasanya minum satu botol air mineral saja kurang. Apalagi tas yang berisi pakaian membuat perjalanan begitu berat dan melelahkan.

Tiba di atas, kami merebahkan diri di atas tumpukan daun bambu yang dinaungi pohonnya untuk menghilangkan rasa lelah. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang untuk ke tempat-tempat wisata lainnya yang jarang dijumpai orang.

Keluar dari Desa Adat Banceuy, kami tersasar, bukan malah menemukan jalan raya seperti yang awal kami lewati justru masuk ke hutan-hutan rimba. Kami tak berhenti bertanya, kepada warga sekitar dan akhirnya menemukan Indomaret pertanda kami sudah keluar dari desa. 

Di dalam minimarket itu, kami membeli sejumlah makanan dan minuman untuk mengisi tenaga. Kebetulan ada penjual jus buah, kami pun membeli segelas untuk menyegarkan badan yang kelelahan. 

Teman saya dengan bahasa sundanya bertanya kepada penjual jus buah tentang arah jalan menuju Bandung. Ternyata, bukan jalan besar Ciater yang kami lalui seperti awal mula kami menuju Curug Bentang malah menuju Sumedang.

Salah, memang salah bertanya kepada orang yang baru dua pekan tinggal di Subang. Kami berkeliling hingga melewati Sumedang, hampir menuju Majalengka dan Cirebon. 

Lantaran lelah di perjalanan karena tidak menemukan kawasan Ciater, kami berhenti disebuah rumah makan sunda dengan pemandangan yang begitu menawan. Istirahat makan dan bertanya lagi kepada pemilik warung tentang jalan menuju Bandung. 

Dia memberitahu kita harus melewati Citali, dari tempat kami lurus saja nanti keluar ke Ujung Berung lalu Bandung. Oh MY GOD! Ujung Berung, itu jauh banget!!! karena pemandangan sekitar sangat indah jadi kami jalan dengan perasaan bahagia. Sampai di Citali, ternyata kami menemui banyak kontainer dengan tekstur jalan yang kurang bagus, berdebu dan berbatu sebab ada pembangunan jalan.

Selama tiga jam lebih tangan dibakar matahari, panas, berdebu dan banyak sekali kontainer yang melintas. Harus ekstra hati-hati membawa kendaraan seperti motor saat melewat jalan itu. 

Akhirnya kami sampai di Bandung, dan urung untuk melanjutkan perjalanan wisata selanjutnya. Kami lebih memilih untuk beristirahat dan pergi ke tempat refleksi untuk meringankan otot-otot kaki yang kaku selama di perjalanan tadi.

Lewat perjalanan panjang itu saya mendapatkan banyak pelajaran, beberapa di antaranya saya harus mampu ikut melestarikan dan menjaga alam semesta dari tangan-tangan jahat, harus lebih banyak bersyukur lagi kepada Allah SWT, harus lebih bisa melawan hawa nafsu, bisa mengendalikan emosi, harus bisa melewati masalah dengan baik lewat bantuan doa bukan malah lari dari masalah, serta harus lebih bersabar lagi karena Tuhan punya cara unik untuk membuat kita bahagia setelahnya.


Sanghyang Heuleut merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Kembang, Banduung. Mata kita akan dimanjakan dengan sejumlah pa...


Sanghyang Heuleut merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Kembang, Banduung. Mata kita akan dimanjakan dengan sejumlah panorama alam yang begitu mengagumkan, hasil ciptaan Tuhan. 

Berkunjung ke Bandung, sayang rasanya jika hanya menikmati ribuan tempat makan unik atau belanja produk fashion di factory outlet atau distro-distro yang tersebar di sana. Jika kita memiliki jiwa yang sangat mencintai keindahan alam, di Bandung Anda akan dimanjakan dengan itu semua. Pasalnya, Bandung menyimpan ratusan bahkan ribuan kekayaan alam, mungkin bisa dibilang setiap sudut Bandung terdapat keindahan yang sayang jika tidak dilihat dan diabadikan.

Kali ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan, bisa berkunjunng ke tempat mandinya para bidadari dan dewa kayangan, Sanghyang Heuleut. Menurut definisi harfiah bahasa Indonesia Sanghyang berarti Tuhan atau Dewa sedangkan 'Heuleut' memiliki arti antara dua waktu atau sesaat. Secara terminologi, Sanghyang Heuleut merupakan tempat mandi atau tempat singgah sementara para bidadari dan dewa di bumi, dan itu ada di Jawa Barat.

Kisah legenda Sangkuriang yang mencintai ibunya sendiri Dewi Dayang Sumbi, Sanghyang Heuleut ada kaitannya dengan cerita ini. Konon, ibunda Sangkuriang sering mandi di Sanghyang Heuleut atau sekadar meminum airnya. Selain itu, menurut cerita rakyat setempat, terdapat bidadari-bidadari cantik dari langit yang menjaga sungai tersebut. 

Seperti biasa, tempat-tempat yang kaya akan mitos selalu dikunjungi orang-orang untuk melakukan samadi atau meditasi untuk melakukan ritual-ritual magis atau sekadar menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya. Sebab, di Sungai Sanghyang Heuleut, mata kita akan dimanjakan dengan jutaan batu-batu alam dan aliran sungai dari Danau Citarum Purba.

Mulanya, tempat ini sangat disakralkan oleh warga sekitar. Mereka tidak berani untuk mengunjungi tempat itu di hari-hari biasa, ada jadwal tertentu yang dipercaya Dewi Dayang Sumbi turun ke bumi dan mandi di tempat itu dan jika kita tidak berhati-hati malapetaka akan menimpa. 

Surga Tersembunyi itu ada di Bandung

Ya, saya menyebutnya surga, karena pemandangannya yang begitu menawan. Meski perlu banyak tenaga menempuh Sanghyang Heuleut tetapi setiba di lokasi semua lelah dan rasa takut terbayar dengan keindahan panoramanya. 

Sanghyang Heuleut masih satu area dengan Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro. Rutenya adalah, kita akan melewati Sanghyang Tikoro dulu, lalu Sanghyang Poek dan terakhir Sanghyang Heuleut. Ketiga tempat itu merupakan tempat mengalirnya aliran sungai Citarum Purba atau Danau Purba.

Untuk menempuh Sanghyang Heuleut kita harus melewati bebatuan besar, sebetulnya ada dua area yang bisa dilewati menuju tempat mandi Dewi Dayang Sumbi itu, yakni lewat jalur bebatuan atau pinggir sungai atau lewat hutan. Saya dan kawan-kawan dari pecinta alam UIN Bandung memilih untuk lewat jalur hutan, karena teksturnya tanah lebih bersahabat untuk dipijaki daripada lewat batu. 

Selama kurang lebih satu jam setengah kami berjalan kaki menuju surga tersembunyi itu. Kaki sudah terasa panas karena jalanan hutan cukup terjal dan perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Setelah melewati hutan sepanjang 3-5 km, kita harus melewati jalur sungai, di sana kaki akan seperti direfleksi oleh batu-batu kecil dan besar.

Selama di perjalanan kita harus ekstra hati-hati saat melewati bebatuan, sebab jarak batu antara batu lainnya cukup jauh dan harus melompati bebatuan yang didominasi oleh lumut dan dialiri air sungai itu. Disarankan untuk menggunakan sepatu gunung atau sendal gunung, karena jika menggunakan sepatu biasa besar kemungkinan sepatu akan rusak dan kepeleset ke dalam air dan itu sangat membahayakan bagi diri Anda sendiri maupun orang lain, karena di sana tidak ada tim rescue, jadi harus bisa menjaga diri.

Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, saya hampir putus asa, badan sudah lelah, berkeringat dan kaki mau putus karena sungai keramat itu belum juga nampak. Akhirnya, kami istirahat sejenak di atas bebatuan besar. Ternyata, setelah memanjat batu besar mata saya dibuat berlinang, tubuh saya kembali segar dan bersemangat, sebab dibalik batu besar itu di sanalah kita dapat melihat hamparan sungai Sanghyang Heuleut yang sangat bersih.


Tanpa basa basi atau malu, saya akhirnya membuka baju di hadapan kawan-kawan baru saya itu. Salah satu teman saya yang mengenakan jilbab dengan percaya diri membuka jilbabnya dan hanya mengenakan kaos pendek di hadapan banyak pria. Mungkin perasaannya saat itu sama seperti saya, lelah, namun itu semua terbayar dengan menyentuh air sungai yang dingin disertai pemandangan indah.

Badan yang tadinya seperti dibakar matahari, pada saat menyelam ke dalam air seperti diguyur air es, adem. Nikmat luar biasa, rasa lelah, putus asa, depresi di perjalanan tadi hilang seketika, saya kemudian berteriak mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah bisa diberi kesempatan menikmati hasil ciptaannya.



Cerita menarik

Selama di perjalanan, kami istirahat di beberapa titik di atas bebatuan jenis Karst. Mata kami dikejutkan dengan munculnya beberapa ekor kera hutan. Awalnya takut tapi saya memberanikan diri untuk memanggil kera-kera itu dengan cara berteriak, namun panggilan saya tidak digubris oleh mereka.

Setelah sampai di danau dengan ukuran sekira 5-10 meter itu mereka mengumpat ke atas batu yang ditumbuhi pohon-pohon besar di atasnya. Saya penasaran dan mencari-cari keberadaan mereka, dan ingin memfoto. Usai membasahkan diri di dalam air sungai, saya akhirnya beristirahat di sebuah batu besar di pinggir sungai. 

Beberapa saat setelah asyik merebah badan sambil merokok, kera-kera itu iseng mungkin ingin mengajak bermain. Kami yang berada di bawah kejatuhan reruntuhan batu kecil, kemudian langsung melompat dan pindah tempat takut batu besar menimpa kami, tapi beruntung bukan batu besar yang jatuh pada saat itu.

Surga gratis cuma di Bandung

Setelah hampir satu jam lebih menikmati Sanghyang Heuleut kami akhirnya pulang dengan rute yang sama. Oiya, untuk masuk ke Sanghyang Heuleut pendaki tidak perlu mengeluarkan uang, karena surga kecil di bumi itu gratis tidak ada tiket untuk masuk ke dalamnya. 

Yang perlu disiapkan hanya uang bensin dan makan untuk mengisi tenaga saat menempuh jarak 40 km lebih dari Bandung Kota menuju Cipatat, Cimahi, Bandung Barat. Jangan lupa untuk membawa air mineral selama perjalanan karena anda bisa terkena dehidrasi karena jaraknya cukup lumayan dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Selain itu, bagi pengendara motor jangan lupa pakai masker penutup wajah dan sarung tangan, agar paru-paru tidak kena polusi dan kulit tangan menghitam. Sebab, saat melewati jalan Cipatat, Citatah dan Raja Mandala, Anda akan bertemu dengan ratusan kontainter pengangkut batu besar. Debu dari batuan sedimen itu sangat membahayakan untuk paru-paru Anda, cuaca panas juga dapat merusak kulit tangan saat melintasi jalan tersebut.

Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek seperti anak dan ibu yang tak pernah bisa terpisahkan, sedarah sepenangggungan. Jika berwisata men...


Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek seperti anak dan ibu yang tak pernah bisa terpisahkan, sedarah sepenangggungan. Jika berwisata menikmati Sanghyang Tikoro tanpa mengunjungi Sanghyang Poek bagai sayur tanpa garam, karena jaraknya cukup dekat karena air sungainya mengalir dalam satu aliran.

Usai menikmati panorama Sanghyang Tikoro, saya bersama teman-teman bolang yang bertemu di tempat parkiran Waduk PLTA Saguling menuju sungai Sanghyang Poek yang jaraknya sangat dekat. Hanya membutuhkan waktu lima sampai sepuluh menit menuju lokasi tersebut dengan berjalan kaki melewati jalan berbatu dan pepohonanan rindang. 

Sanghyang Poek dalam bahasa Indonesia memiliki arti Tuhan Kegelapan, Sanghyang bermakna Tuhan atau Dewa, sedangkan Poek dalam bahasa Sunda berarti Gelap. Wajar jika masyarakat setempat menamai Gua Kegelapan karena ketika kita melewati jalan setapak di sana harus melewati gua purbakala yang sangat gelap dan lembab. 

Menurut cerita legenda, sungai yang merupakan jejak Sungai Citarum Purba ini merupakan tempat murkanya Sangkuriang lantaran gagal dalam membuat bendungan yang diminta ibunya Dayang Sumbi. Sama seperti Sanghyang Tikoro, di sana juga kerap dijadikan tempat orang melakukan ritual pesugihan maupun tempat mencari Kembang Jaksi yakni kembang milik Dayang Sumbi agar bisa awet muda. 

Saking percayanya, ada banyak orang sepulang bertapa untuk menginginkan Kembang Jaksi menjadi bodoh atau seperti orang bingung. Karena, memang tidak diketahui Kembang Jaksi itu seperti apa dan di mana bisa diperoleh.

Pada saat memasuki gua itu, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan stalaknit dan stalakmit berbentuk miring hasil proses alam. Batuan besar tersebut bukan dibentuk oleh tangan manusia tetapi telah terbentuk secara alami dari pelarutan alamiah.

Ketika masuk ke dalam gua, kita tidak akan bisa menikmati keindahannya yang ada hanya gelap gulita. Butuh senter untuk masuk ke dalam gua tersebut, agar melihat keindahan batu alam yang berkilau-kilau saat terkena cahaya layangnya logam emas maupun perak. Senter dibutuhkan untuk mengetahui arah yang akan kita susuri menuju arah keluar gua. Setelah di luar, mata kita akan disegarkan dengan aliran sungai dengan bebatuan putih sejenis batu gamping yang berada di sepanjang sungai. Bentuk batunya sangat unik dan lokasi tepat untuk para pecinta fotografi, karena di sana banyak terdapat spot menarik yang sayang jika tidak diabadikan.



Ketika saya berada di tempat ini hanya ada segelintir orang, teman-teman dari pencinta alam UIN Bandung dan saya. Karena, kami menuju lokasi pada hari kerja, jika datang pada saat hari libur sepanjang sungai akan dipadati orang yang berwisata dan itu akan membuat pemandangan Sanghyang Poek kurang istimewa.

Hal menarik lainnya adalah, saat saya mengunjungi tempat ini aliran sungainya tidak begitu deras dan airnya tidak terlalu tinggi sehingga dapat dipijak. Itu disebabkan karena kemarau panjang dan belum turun hujan di Jawa Barat. Jadi, mata saya dimanjakan dengan bentuk-bentuk batu karst dengan bentuk-bentuk yang mengesankan. Meski cuaca panas, saya rela berdiri di atas batu alam untuk mengabadikan tempat paling syurga yang pernah saya kunjungi. 

Menuju lokasi

Akses menuju Sanghyang Poek sama persis seperti arah jalan ke Sanghyang Tikoro dari Bandung Kota-Cimahi-Padalarang-Raja Mandala-Cipatat. Jika Anda sudah bertemu Sungai Sanghyang Tikoro, cukup berjalan kaki sekira 5 sampi 10 menit melewati Power House PLTA Waduk Saguling. Di sisi jalan Anda akan bertemu hutan dengan pepohonan yang rimbun dan jalan berbatu tajam.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika menuju Gua Purbakala Sanghyang Poek untuk tidak merusak atau menulis-nulis di bebatuan. Karena, hal itu akan merusak keindahan alam Sungai Sanghyang Poek.

Saya sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki ke gua purba milik Dewa itu. Bisa menikmati keindahan alamnya dan bercengkrama dengan bisikan angin serta aliran air yang mengalir sangat bersahabat. Tugas kita saat ini menjaga dan melestarikan kekayaan alam di tanah pasundan bukan malah merusak!


Dahulu kala, Kota Bandung merupakan danau purba yang menyimpan banyak kekayaan alam di dalamnya. Salah satunya Sanghyang Tikoro atau da...


Dahulu kala, Kota Bandung merupakan danau purba yang menyimpan banyak kekayaan alam di dalamnya. Salah satunya Sanghyang Tikoro atau dalam bahasa sehari-hari memiliki arti Tenggorokan Dewa karena bentuknya yang menyerupai kerongkongan manusia. 

Saya berkesempatan mengunjungi tempat paling fenomenal itu yang terletak di kawasan Waduk Saguling, Desa Cipatat, Cimahi, Jawa Barat. Ternyata Gua Sanghyang Tikoro memiliki kisah mengagumkan, dahulu kala Bandung itu danau purba besar dan airnya surut ke arah Sanghyang Tikoro ini.

Bisa menyentuh tenggorokan Tuhan di Bumi Pasundan tentunya membuat saya bangga. Mungkin, saya adalah orang ke sekian yang menginjakkan kaki di tempat paling misterius itu. Sesampainya di sana, tak ada kata lain selain mengucap syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan kekayaan alam yang begitu indah.

Menurut cerita warga setempat, banyak orang yang berkunjung ke tempat itu, tidak hanya untuk berwisata saja namun bertapa atau semadi untuk melakukan ritual-ritual magis di sana. Beruntung, ketika saya mengunjungi tempat itu, cuaca sedang bersahabat dan air yang mengalir ke lubang menyeramkan itu tidak terlalu deras. Jadi bisa menikmati, keindahannya dari jarak dekat.

Sayangnya, Sanghyang Tikoro yang begitu magis itu, kini berubah. Airnya sangat bau, karena tepat di samping sungainya terdapat penambangann batu besar, konon banyak penambang tewas di sana namun tidak diekspos. Sehingga membuat sungai Sanghyang Tikoro terlihat begitu angker.

Menuju Lokasi

Setelah melihat foto-foto dari akun instagram teman, saya berniat untuk mengunjungi tempat itu. Tanpa bertanya kepadanya, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu alamat dan juga cara menempuh tempat itu. Setelah menuliskan kalimat Sanghyang Tikoro yang muncul adalah kisah-kisah mistis di dalammnya. Mulanya, saya urung untuk melakukan perjalanan namun karena tekad sudah bulat ke tempat itu alhasil saya berangkat sendirian menggunakan sepeda motor. 

Tepat pukul 07.00 WIB, dari tempat kosan di kawasan Gatot Subroto, tanpan berpikir panjang, saya langsung berangkat ke tempat wisata itu. Seperti biasa, orang baru di Kota Bandung rasanya kurang afdhol jika tidak nyasar ke suatu tempat dan bertanya ke banyak orang ihwal tempat yang akan dikunjungi. 

Ternyata dari Jalan Gatot Subroto menuju Waduk Saguling sangat ringan alias gampang. Saya hanya membutuhkan waktu sekira satu jam dari kosan, cukup lurus saja mengikuti jalan besar sambil melihat petunjuk jalan. Patokannya adalah, Desa Citatah, Cipatat, dan Desa Raja Mandala. Dari Cipatat hanya berjarak sekira 6 km akan bertemu sebuah pasar dengan gapura besar bertuliskan Waduk Saguling. 

Jarak tempuh menuju sungai Sanghyang Tikoro dari Bandung Kota, diperkirakan mencapai 30 hingga 40km atau satu sampai duajam perjalanan tergantung kondisi jalan dan seberapa cepat Anda membawa kendaraan. Setelah menemukan Desa Citatah, Anda akan disajikan dengan debu jalanan yang tebal, panas menyengat, dan ratusan truk kontainer pengangkut batu yang mengantri menuju pabrik. Iya, karena wilayah tersebut terkenal dengan produsen batu alam yang digerus dari gunung-gunung kapur dan batu di area tersebut. 

Di sisi jalan, Anda akan menemukan pemandangan paling tidak mengasyikan saat melewati jalan tersebut. Karena, hampir di sisi jalan terdapat pabrik pembuatan ukiran batu, dari marmer, kapur, batu alam hingga batu sedimen. Jalanannya pun cukup terjal penuh kelok, dan harus berhati-hati melewati jalan tersebut karena banyak pasir dan debu dari pabrik-pabrik batu alam itu yang bisa membuat Anda sakit mata atau terpeleset saat mengendarai motor.

Setelah bertemu dengan gapura itu, membutuhkan waktu sekira 10 hingga 15 menit menuju Sanghyang Tikoro (jika tidak nyasar). Patokannya adalah tempat pengeboran pusat power house di dekat gedung Waduk Saguling. Untuk mencapai lokasi, terdapat dua jalan pertigaan, untuk menempuh Sanghyang Tikoro pilihlah pertigaan kedua karena jaraknya lebih dekat menuju lokasi.

Bagi orang yang baru pertama kali ke Sanghyang Tikoro pasti akan bingung bagaimana cara menempuh sungai itu demikian halnya saya. Hampir setiap orang yang melintas saya tanya, bagaimana cara turun menuju sungai? pasalnya, ketika saya sampai lokasi tidak ada akses turun, hanya ada tangga batu menuju suatu tempat kosong yang di bawahnya merupakan sungai Sanghyang Tikoro. 

Saya penasaran dan ingin sekali turun ke bawah. Beruntung, badan saya kecil akhirnya bisa menyalip di sela-sela tangga itu untuk melompat ke dalam selokan besar tempat mengalirnya air dari hulu ke hilir dan bermuara ke sungai Sanghyang Tikoro. Tidak sampai di sana, saya harus menuruni batuan, tanah licin dan pohon besar untuk mengabadikan si tenggorokan dewa itu. 

Adrenalin saya diuji. Dalam hati berucap saya harus turun, karena sudah jauh-jauh dari Ibukota untuk menikmati pemandangan alam di Bandung, masa tidak turun. Tadinya ingin urung, karena rasa takut menyelimuti saya begitu besar, terlebih pada saat itu saya sendirian tidak ada satu orangpun yang datang karena berkunjung di hari senin.  
Rasa bangga terhadap diri sendiri bisa melawan rasa takut pada saat itu tak bisa tertuliskan. Saya bisa turun ke dalam gua besar itu, dan mengabadikan setiap sisi yang saya lihat. Setiap saya mengcapture semuanya, tak berhenti saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena sudah memberi saya kesempatan ke gua paling bersejarah di Bandung itu.

Tidak hanya bersyukur, saya juga tak berhenti-henti berdzikir, karena saya orang baru yang menginjakkan kaki di sungai tersebut. Karena, menurut mitos yang beredar, sungai yang tidak tidak diketahui ujungnya itu selalu meminta tumbal kepada siapapun yang datang ke sana. Pesannya adalah, kita tidak boleh sombong terhadap segala sesuatu, termasuk ke tempat-tempat seperti Sanghyang Tikoro. Jika kita terlalu sombong atau melakukan hal-hal aneh di sana akan terkena mara bahaya sepulang dari sana.

Saat itu, kondisi cuaca sangat panas menyengat dan bunyi pekerjaan berat dari gunung membuat saya tidak nyaman berlama-lama di Sanghyang Tikoro ditambah bau anyir menyengat dari air sungainya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan selanjutnya mencari harta karun yang ada di bumi Pasundan. 

Ketika sampai di tempat parkir motor, terdapat sekelompok pecinta alam dari UIN Bandung, akhirnya saya bergabung dengan mereka untuk menuju tempat selanjutnya lewat rekomendasi mereka. Tanpa ragu, saya akhirnya melanjutkan perjalanan selanjutnya, yakni menuju Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut.

Bagi yang suka bertualang, rasanya Anda harus mencoba merasakan sungai paling fenomenal dan menyeramkan, Sanghyang Tikoro!


"Aku pernah melihat Tuhan, Dia berpesan untuk selalu berlaku bijak di muka bumi, lakukan kenakalan sedikit tapi jangan membahayak...


"Aku pernah melihat Tuhan, Dia berpesan untuk selalu berlaku bijak di muka bumi, lakukan kenakalan sedikit tapi jangan membahayakan, dan jangan terlalu naif atau suci, itu berbahaya," kata seorang pria bernama Aden yang mengaku pernah bertemu Tuhan.

Aku terperangah mendengar kalimatnya, dia begitu meyakinkanku bahwa apa yang diucapnya itu suatu kebenaran bukan kebetulan. Lewat kata-katanya, aku tidak bisa melihat apakah itu merupakan imajinasi seorang Aden atau memang betul terjadi.

Aden ingin mengundang beberapa penulis dan wartawan untuk mengisahkan pengalamannya di surat kabar dan mengi'lankan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa Tuhan memang betul-betul nyata, bisa dilihat dan bahkan mampu berbincang dengan kita.

Pria blesteran Paris dan Jawa Tengah ini begitu yakin akan niatnya, dia tidak takut diboikot atau dikecam berbagai aktivis agama fanatik. Sebab, membicarakan Tuhan tak lazim di negara ini, mereka bisa mengusik tidur Aden dan keselamatannya akan terancam setelah mengungkapkan hal itu.

Aku terheran, mengapa Aden sangat percaya diri dengan apa yang dilihatnya itu hingga ingin memberitahu banyak orang. Mungkin, dia memiliki alasan penting, yang belum kuketahui sampai saat ini. Aden pernah bilang, dengan diungkapkan hal tersebut ia ingin memberi masukan kepada seluruh masyarakat bagaimana cara beragama dan menyikapi kehadiran Tuhan.

Apakah pantas seorang Aden hendak menggurui masyarakat tentang Tuhan dan Agama? aku rasa mereka akan meludahi Aden. Orang tidak akan mungkin percaya dengan perkataannya, Aden bukan manusia suci seperti nabi atau seorang pemuka agama. Dengan mengungkapkan bahwa dirinya pernah melihat Tuhan, bukan pengakuan yang ia dapatkan melainkan hinaan dan celaan bertubi-tubi dari masyarakat.

Seorang pemuka agama saja, yang mungkin sering bertemu dengan Tuhan lewat mimpi atau nyata tidak pernah sepamer Aden. Mereka justru mengisahkannya lewat Tulisan dengan menggunakan bahasa sastrawi dan jarang orang mengerti maksud dan alur ceritanya.

Aden hanyalah seorang penulis yang memiliki imajinasi cukup tinggi, tulisan-tulisannya selalu nyata seperti bukan fiksi. Menariknya, beberapa cerita pendek dan juga cerita bersambung milik pria aneh itu selalu kejadian. Seakan-akan dia sedang menuliskan takdir seseorang dan memberi gambaran apa yang terjadi di masa depan.

Hasil karyanya membuatku takjub, sebagai seorang pembaca, tulisan-tulisan Aden bak sihir sangat menghipnotis dan mataku tidak merasa lelah, baru membuka halaman pertama rasanya ingin merampungkan kisahnya yang berjumlah ratusan halaman itu.

Selain berprofesi sebagai penulis Aden juga merupakan seorang pria flamboyan, suka main perempuan. Permainannya cukup tabu, membawa mereka ke dalam kamar dan melakukan hal paling mengasyikan dan memabukkan. Aden mengatakan, pada saat bisa memainkan alat vitalnya bersama seorang wanita, ia menemukan cara terbaik untuk bersyukur dan mengagumi keagungan Tuhan.

Dari permainan itu dia mengaku mendapatkan jutaan inspirasi untuk menelurkan karya baru. Pernah suatu ketika, sedang asyik bercinta di dalam kandang kuda penuh jerami Aden merasa geram lantaran tidak merasakan kenikmatan dan kepuasan dari tubuh seorang wanita. Yang ia rasakan saat itu hanyalah kesakitan sedemikian hebat dan hampir meregang nyawa.

Awal mula Aden merasakan kesakitan hebat saat bercinta pada saat ia telah membuka pakaian luar dan dalamnya di hadapan seorang pelacur yang dibayarnya cukup mahal. Ketika melakukan hubungan intim, Aden sang pengelana cinta melakukan beberapa teknik seks yang dijabarkan dalam kitab Kamasutra. Selama hampir tiga jam, tiga ronde berhasil dilampauinya dengan asyik di kandang kuda. Ternyata, Aden belum juga puas, dia membayar lagi pelacurnya dan melakukannya adegan panas itu lagi. Meski sudah tiga ronde ia jalani, dia ingin melakukannya lagi. Tenaganya masih kuat, sekuat tenaga kuda mengarungi jalanan terjal ribuan kilo meter.

Sebelum memulai ronde terakhir, Aden mandi besar. Setiap bercinta baik sebelum maupun sesudah dia mandi besar serta berdoa kepada Tuhan agar diberi kepuasan dan kenikmatan saat melakukanya. Setelah mandi dan sudah di atas perut pelacurnya, dia mulai mengisap-isap puting berwarna kopi seperti bayi baru lahir, kemudian menciumi leher dan bibir pelacur molek berusia 17 tahun itu. 

15 menit melakukan foreplay, Aden merayu si pelacur untuk mengisap bagian vitalnya agar klimaks. Setelah itu, baru dia memasukan mahkotanya, ke dalam lubang surga milik pelacur itu secara perlahan dan kemudian memberikan ritme goyangan untuk memberi sensasi nikmat ketika masuk ke dalam gua paling syurga yang diciptakan Tuhan kepada wanita itu. Tak puas dengan gaya yang biasa, Aden lantas mengangkat kaki kiri si perempuan ke pundaknya agar mendapat kepuasan yang maha mengasyikan.

Wajah pelacurnya pucat, ia tampak seperti ikan kehabisan oksigen, kelelahan dan ingin pingsan melayani Aden. Pelacur yang melayan Aden mengerang cukup kencang, mendengar suara itu, Aden juga berteriak karena ada sesuatu yang menyakitinya lantas melepas alat kebanggaan miliknya itu dari lubang syurga si pelacur. Merasakan sakit yang begitu hebat, wajahnya tiba-tiba memerah, matanya terbelalak seperti mau keluar kemudian terbirit-birit menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi kuda, Aden melihat ada darah keluar dari alat kelaminnya itu, dia berteriak sekencang mungkin hingga membuat si pelacur kaget. Tanpa busana dia berlari menghampiri Aden di kamar mandi kuda, yang jaraknya hanya lima meter dari tempat mereka bercinta. Pelacur itu berusaha menenangkan Aden, lalu menghubungi ambulans untuk meminta pertolongan medis. Sambil menunggu mobil ambulan datang, pelacur itu memakaikan baju Aden dan membersihkan tubuhnya yang bau sperma, agar mereka tidak curiga bahwa keduanya habis melakukakn seks di dalam kandang kuda.

Jarak antara kandang kuda menuju rumah sakit cukup jauh. Membutuhkan waktu sekira satu jam untuk tiba di rumah sakit, di dalam ambulan Aden memegang tangan si pelacur dan menjambak rambutnya sangat kuat sambil melotot kesakitan. Bangunan tiga lantai dengan simbol farmasi tampak dari kaca jendela ambulan, Aden sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit dan meminta perawat di dalam ambulan untuk segera menurunkannya dari mobil berukuran tiga meter itu yang berisikan tabung oksigen dan P3K. 

Setibanya di rumah sakit, Aden langsung dibawa ke ruang gawat darurat, sambil memegang kemaluannya ia memohon kepada Tuhan untuk menghentikan rasa sakit itu. Entah apa yang membuatnya sedemikian histeris kesakitan dan mengeluarkan banyak darah dari kemaluannya. Mungkin karena pelacur itu telah memberi penyakit kepadanya, atau karena aksesori yang dipakai si pelacur pada bagian intimnya menusuk alat kelamin Aden. Entahlah.

Pelacur itu merasa bersalah, lantas kabur tanpa menunggu Aden ditangani dokter hingga siuman. Melihat si pelacur kabur di hadapannya, Aden berteriak sambil menjerit kesakitan hingga urat lehernya mau meletus keluar dari lapisan kulit arinya dengan wajah memerah. Namun, wanita jalang itu tidak menghiraukan Aden, dia lantas memanggil taksi untuk mengantarkan pulang.

Selama hampir dua jam lebih Aden ditangani dokter, tim medis kesulitan mencari penyebab keluarnya darah dari kelamin Aden. Alhasil, dokter menemukan ada hal ganjil di lubang kencing kemaluannya. Tanpa persetujuan Aden, dokter memotong alat vitalnya sedikit karena ada suatu benda yang masuk ke lubang kecil kemaluannya. Sepanjang penanganan dokter, Aden tidak berhenti berteriak lantaran merasa kesakitan cukup dahsyat. Mereka akhirnya membius Aden dengan morphine dosis tinggi agar dia tenang dan tidak berhenti memekakkan telinga tim medis dari teriakkannya.

Aden dibuat pingsan dan tak sadarkan diri, saat dokter mengutak-atik kemaluannya. Alhasil, dokter berhasil mengangkat benda tersebut, mereka cukup kaget lantaran jerami berukuran 5cm itu masuk ke lubang kecil di kemaluan Aden. Kemudian mereka menaruh hasil tangkapannya itu, di dalam sebuah plastik yang ditaruh di atas meja dekat ranjang Aden. 

Tiga jam pingsan, akhirnya Aden siuman. Melihat Aden telah sadarkan diri, seorang perawat perempuan menghampirinya untuk memberikan obat.

"Apa yang terjadi kepadaku, sus?," tanya Aden kepada perawat bernama Rashi itu.

Tak sepatah katapun keluar dari bibir seksi Rashi, ia hanya memberi kode agar Aden melihat sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Sambil tersenyum dan mengerlingkan mata kepada si perawat, Aden lantas membuka selimut yang menutupi kemaluannya itu dan berteriak lagi hingga membuat pasien lainnya terkejut.

"Tidaaaaaaaak," teriak Aden.

Aden melihat kemaluannya telah berubah ukuran, alat kelaminnya itu tampak sangat pendek dan membesar di bagian ujungnya. Pria jantan itu lantas menangis histeris seperti anak kecil di dalam kamar pasien.

"Jangan lakukan ini padaku, Tuhan. Tolong," pintanya sambil menengadah ke langit-langit bangsal rumah sakit.

Mendengar ceritanya, aku tertawa terbahak-bahak hampir terkencing-kencing. Bagaimana tidak, ia bercerita sambil mengekspresikan kesedihannya dan aku merasa itu adalah hal paling bodoh yang dilakukan Aden karena bercinta di dalam kandang kuda penuh jerami. 

Namun, hal itu tidak membuat Aden menghentikan kebiasaan abnormalnya. Dia justru ingin mencobanya lagi, dengan alat vital berukuran kecil seperti itu, dia justru tertantang dan mengetes seberapa hebat miliknya. Sudah tiga wanita yang merasa geli dan menertawakan kemaluan Aden usai melakukan seks.

Pria berparas tampan itu tak peduli dengan apa yang dilakukan para pelacur terhadapnya. Dia hanya ingin mendapatkan kepuasan untuk memantik inspirasi menulis fiksi. Sebab, jika Aden tidak melakukan kebiasaannya itu, dia tidak akan mendapatkan judul baru untuk cerpen dan cerbungnya.

Apakah kau percaya Aden pernah melihat Tuhan, dari tingkah lakunya saja mustahil Tuhan menampakkan wajah kepadanya. Kepercayaanku belum 100% tentang apa yang dikatakannya itu. Mana mungkin manusia penggila seks bisa melihat Tuhan, budak Tuhan saja tidak semuanya bisa melihat apalagi Aden?

Melihat keraguanku, lantas Aden menceritakan awal mula dia bertemu dengan Tuhan. Suatu ketika sepulang dari mencicipi kemolekan tubuh wanita, Aden menemukan sesosok mayat bayi laki-laki, di sebuah semak belukar dekat rumahnya. Hanya dia yang melihat bayi malang itu, karena tidak ada satu orangpun yang melintas di jalan tanpa lampu penerang jalan dengan pohon di rindang di sisi kiri dan kanannya.

Ketika melihat mayat bayi itu, tubuh Aden tiba-tiba menggigil, nafasnya sesak dan muntah karena bau anyir yang begitu menyengat menelusup ke lubang hidugnya. Raut wajah Aden mendadak pucat akibat ketakutan, sambil memegang telefon genggam dengan tangan gemetaran Aden berusaha menghubungi pihak kepolisian terkait penemuan bayi laki-laki berbalut kain batik yang masih ada tali pusarnya. 

Sambil menunggu polisi datang, Aden terduduk bersandar pohon sambil menangis meraung-raung. Entah apa yang dipikirkannya pada saat itu, yang jelas Aden merasa dibayangi oleh dosa. Aden melakukan seks dengan sejumlah wanita muda dan beberapa di antara mereka mengandung anaknya, tanpa perasaan Aden meminta wanita yang dihamilinya itu untuk menggugurkan kandungannya.

Perasaan dan pikiran semacam itu yang bergelayut di dalam hati Aden hingga membuat tangisnya pecah saat melihat bayi laki-laki yang baru berusia tiga hari itu. Dia merasa telah berdosa karena dari perbuatannya hampir ratusan nyawa dibunuhnya lewat rahim wanita.

Sungguh nahas nasib bayi tersebut, orangtuanya sangat keji sampai hati membunuh anak yang baru dilahirkannya itu. Dia tak habis pikir mengapa orangtuanya membuangnya di antara semak belukar seperti ini, mungkin sebelum ditaruh di semak-semak bayi laki-laki itu sempat dicekik lehernya atau ditenggelamkan ke dalam bak mandi karena di leherya terdapat bekas cekik dan badannya membengkak kebiruan.

Imajinasinya mulai liar dan rasa takut yang menyelimuti perasaannya 
semakin hebat. Dia mulai berpikir, apakah bayi itu dari spermanya yang dia celupkan ke dalam rahim seorang wanita atau bukan. Tangisan Aden pecah, tidak bisa dibendung lagi, seakan merasa bersalah dengan apa yang diperbuatnya beberapa waktu lalu.

Tanpa menunggu polisi datang, Aden berlari kencang mencari jalan ke rumahnya. Langkah kakinya semakin cepat dengan sekuat tenaga dia berlari ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Aden langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mandi. 

Bersambung...