Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Berkesempatan mengunjungi situs purbakala paling fenomenal di Jawa Barat, tentunya menjadi kebanggan tersendiri. Bukan karena panoraman...


Berkesempatan mengunjungi situs purbakala paling fenomenal di Jawa Barat, tentunya menjadi kebanggan tersendiri. Bukan karena panoramanya yang apik, melainkan imajinasi tertantang berkelana di zaman purbakala.

Mungkin, aku adalah orang ke sekian yang menginjakan kaki ke situs purbakala terbesar di Jawa Barat, Gunung Padang. Langkahku tergerak menuju tempat peradaban zaman megalitikum itu, ketika seorang pria yang kutemui di Guwa Pawon, Cimahi, menceritakan tentang keagungan Gunung Padang.

Mulanya aku tidak tertarik sama sekali melangkahkan kaki ke Gunung Padang, membayangkan perjalanan yang tidak pendek dan harus pulang ke Jakarta. Namun, dengan ekspresi yang begitu meyakinkanku ihwal keajaiban dan keindahan Gunung Padang, sontak kakiku seperti ingin berlari ke tempat tersebut. Terlebih, pada saat itu ia sempat mengerdilkan nyaliku, dengan menyebut perjalanan menuju Gunung Padang bagai mencari mata air di tengah sahara, lantaran tempatnya yang sangat sulit ditempuh, tanpa rasa ragu dan penasaran yang memuncak aku beranjak ke tempat yang ia ceritakan.

Kala itu, matahari kurang bersahabat, cahayanya terlalu terik hingga membakar sebagian kecil tubuhku. Selama kurang lebih tiga jam menggunakan sepeda motor, aku mengukur aspal Cimahi hingga desa Karyamukti sepanjang 165 kilometer. Baru seperdelapan perjalanan, tubuh mulai merengek, mau pingsan akibat cuaca panas yang menghantam seluruh persendianku.

Rasa penasaran yang cukup tinggi dan tak ingin melakukan berbagai hal setengah hati, tekad yang tinggi berhasil mendobrak perasaan lelah itu kemudian membayangkan bahwa aku akan melihat pemandangan yang begitu indah lengkap dengan penghayatan sejarahnya.

Tak dianya, ternyata apa yang dikatakannya benar. Perjalanan ke Gunung Padang sungguh tidaklah mudah, butuh kesabaran dan tenaga ekstra serta fisik yang joss. Sepanjang jalan aku berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut batu kapur, jalan berlubang, belum lagi bertemu tikungan tajam serta jalan yang berpasir dan berbatu. Itu hanya deskripsi jalan rayanya saja, butuh waktu sekira dua jam melewati tiga desa dan dusun dengan kontur tanah miring hingga mencapai 90 derajat. Jalannya hanya muat dua motor, tidak rata, masih berupa tanah, batuan besar, kiri dan kanan jurang, ditambah lagi banyak binatang melata kerap melintas tanpa permisi.




Tepat pukul 12.00 WIB di mana matahari tak memperbolehkanku untuk melirik bayanganku sendiri, aku sampai di tujuan. Tanpa rasa malu, ketika melihat plang nama Situs Purbakala Gunung Padang sontak mulutku langsung memekikan takbir berulang kali, bersyukur akhirnya aku sampai di tujuan dengan selamat. Mata mulai berkunang, lelah, panas dan emosi berkumpul, mereka meraung-raung pada tubuhku meminta rebah barang sesaat. Untuk meredam itu semua, aku membakar sebatang rokok dan meminum air bening tanpa bernafas. Saking haus dan lelahnya. 

"Datang sendiri, Teh?" tanya seorang petugas Situs Purbakala padaku yang terlihat aneh seperti orang gila membawa tas ransel besar sendirian, wajah penuh debu dan berkeringat. 

"Muhun, A. Sendirian dari Bandung nuju Gunung Padang," jawabku sekenanya.

"Wanian pisan Teh?","Muhun A. Urang penasaran sareng Gunung Padang."

"Istirahat heula, Teh. Eta di luhur aya panginapan," tawarnya.
"Sabahara A, semalaman?" tanyaku. "Tungguan nyak, urang bade tanyakeun heula, ka pamilikna," ujarnya. 

Mungkin dia adalah malaikat yang diturunkan Tuhan kepadaku, tanpa basa-basi dia menawarkan ini dan itu. Aku terkesima dengan kebaikan pria paruh baya yang memakai ikat kepala khas Pasundan yang sudah berbaik hati melayan kedatanganku. Setelah bernegoisiasi, aku mendapatkan penginapan untuk istirahat sejenak sebelum mendaki lagi. Karena, untuk mencapai situsnya, kita harus memanjat sekira 10 menit dari pintu loket.

Mata sudah tidak bisa diajak berkompromi, tanpa diberi aba-aba langsung terpejam usai mandi. Selama satu jam setengah aku tertidur setengah pulas, mengingat akan menanjak dan perut belum diisi makanan.



Setelah makan dan membersihkan diri-lagi-aku mulai mendaki gunung yang dipenuhi bebatuan endesit zaman purbakala itu. Sekira 100 anak tangga lebih, dengan kontur berantakan dan ketajaman tikungan 90 derajat, aku melangkahkan kaki satu persatu. Nafas mulai tidak bisa terkontrol, efek nikotin memberatkan langkah dan memporak-porandakan ritme denyut nadiku, dengkul lemas, baju mulai basah oleh keringat.

Semula, prediksiku sampai ke atas Gunung Padang sekira 10 menit, ternyata itu tak cukup. Meski sudah melatih kaki mendaki beberapa gunung, namun pada saat menaiki anak tangga Gunung Padang kaki meletih sebelum sampai situs purbakala itu. Manusia semuda diriku, membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai atas untuk menyaksikan hamparan bebatuan tak beraturan di puncak Gunung Padang.

Sesampainya di atas gunung sekira pukul 04.00 WIB aku menghela nafas panjang dan merasakan denyut nadi kembali normal. Telapak kaki yang tadinya panas, mendadak dingin karena perasaan bersyukur bisa sampai di atas. Baju yang basah mulai mengering, angin kencang dan matahari berhasil melenyapkan itu semua. 

Kamera telepon genggamku, tak berhenti menangkap spot-spot menarik untuk diabadikan. Tanpa bantuan orang lain, aku memotret sendiri keberadaanku di tengah situs-situs zaman megalitikum itu dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.

Hamparan bebatuan endesit besar berhasil membuat hatiku tenang, nyaman, dan damai seakan tidak mau turun ingin berkemah di atas saja. Hampir tiga jam sambil menunggu matahari terbenam, aku membantu beberapa petugas kebersihan memunguti dedaunan yang jatuh. Herannya, aku tidak mengeluh lelah sedikitpun, seperti ada energi yang menarik tubuhku untuk membantu mereka. 

Dengan bahasa Sunda seadanya, aku mencoba memulai percakapan dengan Kang Widodo, Kang Daud dan Kang Yahya. Mereka menceritakan tentang kesakralan situs purbakala tersebut, yang membuatku tercengang. Dari kisah banyak manusia dan binatang yang mati ketika melintas di atasnya hingga penduduk desa lain terkena sakit misterius karena berani mencuri bebatuannya.

Pria yang juga dikenal sebagai kuncen Gunung Padang itu menceritakan banyak para pejabat datang untuk sekadar meminta karomah kepada para leluhur dengan bertawasulan atau membaca zikir-zikir khusus agar apa yang diinginkan termakbul. Aku tak percaya pada saat itu, kemudian dia mengajakku untuk ikut bergabung melaksanakan kegiatan tawasulan di atas malam nanti.

"Teteh pas datangnya, hari ini hari kamis, biasanya kami mengadakan tawasulan di atas, banyak yang datang tengah malam. Kebanyakan sih pejabat daerah, ada juga yang orang biasa datang dari berbagai daerah," ungkapnya.

Untuk menundukkan rasa kemustahalan itu, tanpa berpikir panjang aku mengiyakan perintahnya. Tepat pukul 00.19 WIB aku melangkahkan kaki menanjaki jalan batu ditemani Kang Daud dan beberapa ustadz serta pemangku adat desa setempat.

Gelap, suara hewan dan desis angin hampir menyurutkan langkahku. Beruntung ada beberapa orang yang mendampingiku saat itu, dengan mulut sambil berkomat-kamit, perjalanan yang semula berlangsung 20 menit dengan mereka mungkin hanya membutuhkan waktu lima menit! untuk mencapai atas. Luar biasa!

Ujian nyali tidak berhenti sampai di situ, sesampainya di atas terdengar bunyi orang seperti bermain gamelan. Beberapa ustadz yang berjalan di depanku langsung berhenti, membacakan doa sambil memohon izin untuk berkunjung. Bulu kuduk berdiri, cahaya bulan penuh malam itu memperlihatkan wajah-wajah situs purbakala yang gagah terkena semburatnya.



Aku mengucap syukur bisa berada di atas Gunung Padang pada dini hari. Di beberapa titik, aku melihat terdapat orang membawa sesajen bertapa dan juga meditasi. Di sisi lain aku melihat beberapa orang berpakaian putih-putih membaca shalawat serta doa-doa khusus. Semua aku abadikan untuk menjadi momen tak terlupakan selama berada di atas Gunung Padang. Namun anehnya, sesampainya di bawah foto-foto hasil jepretanku blur dan ada satu yang hilang. 

Kang Widodo, kuncen sekaligus pemerhati situs purbakala di Indonesia mengajakku untuk duduk ikut bershalawat tanpa bertanya terlebih dahulu apa agamaku. Usai melakukan ritual itu, mereka mengajakku makan ngariung, makanannya sederhana, hanya ada tempe, tahu, sambal, ikan dan juga sayur bayam. Udara dingin membuat perutku lapar, tak peduli makan di atas tampah bersama 10 orang jemari berebut mengambil lauk dan juga nasi. 

Ada hal unik yang aku alami usai bertawasulan di atas Gunung Padang, ketika udara dingin menelusup ke dalam jaketku, aku tidak merasakan kedinginan yang begitu dahsyat. Sementara di sekelilingku berkemul jaket dan selimut. 

"Teh enggak kedinginan?," tanya Kang Widodo melihatku sangat aneh malam itu.

"Enggak, A. Cuma adem aja enggak dingin enggak panas juga, kenapa gitu A?," ujarku.

"Oh, kelahiran tahun berapa Teh?,","1 Desember 1988, A. Kenapa sih?"

"Enggak cuma nanya aja," jawabnya mengambang, sambil tersenyum dan menganggukan kepala di hadapanku.

Aku belum mendapatkan jawaban logis, kenapa dia bertanya seperti itu. Tapi, aku tidak memperdulikannya dan langsung bercengkrama dengan mereka membicarakan keagungan situs purbakala yang ada di tanah Cianjur tersebut. 

Tepat pukul 02.30 WIB kami diwajibkan untuk turun. Karena, tepat pukul 03.00 WIB, merupakan jam khusus manusia purba dan kita tidak boleh mengusiknya dengan berada di atas sana. 

Tiba di pusat informasi, sambil mengobrol, ngopi dan minum kopi. Hawa dingin menggerayangi tubuhku, lantas aku bergegas mengambil jaket di dalam kamar penginapan, karena dinginnya yang begitu kejam menusuk-nusuk kulitku.

Kemudian, aku meminta Kang Widodo untuk menjelaskan mengapa di atas tadi tidak sedingin ini. Dia hanya membalasnya dengan senyuman dan megajakku bertemu salah seorang pemuka agama. Setelah menemui orang itu, Kang Widodo menjabarkan bahwa di dalam diriku terdapat api yang begitu besar, di Gunung Padang orang-orang seperti aku pasti akan nyaman dan betah serta cocok untuk tinggal. Karena, energi yang ada di atas mampu meredam kobaran api bukan mematikannya.

Aku terheran, setengah tak percaya. Tapi, apapun itu, aku bersyukur bisa berkelana ke zaman megalitikum bersama mereka. Aku tidak percaya bisa menempuh jarak yang tak pendek untuk mencapainya, dan berhasil dengan baik.

Sinar matahari membangunkan tidurku, dan bergegas untuk pulang ke Jakarta lewat Bandung Kota. Perjalanan 165KM kembali akan aku hadapi. Sebelum beranjak, aku berpamitan dengan Gunung Padang dan beberapa kawan baru yang kutemui di sana. Kang Widodo, memberi bekal air keramat kepadaku untuk dapat diminum selama perjalanan. Air yang konon memiliki jutaan manfaat, dengan kandungan mineral tinggi hasil dari batuan endesit zaman purbakala.

"Minum air ini, teteh pasti kangen ke sini lagi. Semoga selamat sampai tujuan ya Teh," kata Kang Widodo.

"Nuhun A. Mohon doanya ya, biar aku sehat, bisa balik lagi ke sini, sejahtera dunia akhirat.","Amin," jawabnya lugas.

Sesampainya di Kota Bandung, aku ditampakkan lagi beragam keanehan. Salah satunya ada anak kecil yang meminta gendong saat aku sedang keberatan membawa barang bawaan. Dia menangis histeris dan merengek di hadapanku. Seorang pria tua meminta rokok yang sedang aku hisap nyawanya, dan motor jatuh saat hampir menabrakku.


Selayang pandang

Masyarakat setempat mempercayai bahwa situs purbakala Gunung Padang merupakan tempat Prabu Siliwangi, Raja Sunda yang berusaha membangun istana dalam semalam dan telah dikeramatkan oleh warga sekitar. Penemuan harta kekayaan Indonesia ini, oleh seorang sejarawan asal Belanda N.J Krom pada tahun 1949 sebelumnya keberadaan situs ini juga pernah dimuat pada ROD semacam buletin dinas kepurbakalaan pada tahun 1914.

Bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang dianggap lebih tua dari Piramida di Giza hal itu dibuktikan secara ilmiah pada hasil pengujian karbon dating laboratorium BATAN (Indonesia) denan metoda SC. C14 dari material paleosoil ke dalaman -4 meter pada lokasi bor coring. Hasil yang tak kalah mengejutkan adalah keluarnya hasil laboratorium Beta Analytic Miami, Florida yang mengatakan bahwa sekitar kedalaman lima meter sampai 12 meter pada bor 2 ditemukan situs yang usianya 14500-23000 sebelum masehi. (Wikipedia)


Tempat wisata lainnya yang wajib dikunjungi saat berada di Bandung, Jawa Barat adalah Guha Pawon. Di sini penikmat keindahan alam ...



Tempat wisata lainnya yang wajib dikunjungi saat berada di Bandung, Jawa Barat adalah Guha Pawon. Di sini penikmat keindahan alam akan merasakan denyut nadi manusia Pasundan pertama zaman purbakala yang tinggal di Kota Kembang.

Perjalanan saya selanjutnya adalah ke tempat situs purbakala Gua Pawon yang terkenal di Kota Bandung, tepatnya di daerah Raja Mandala, Cimahi, Bandung Barat, Jawa Barat. Semula, saya ingin ke Danau Situ Ciburuy yang jaraknya dekat dengan Bandung Kota dan tidak berniat ke tempat ini. Setelah bertanya kepada mamang tukang Nasi Kuning pinggir jalan mengenai arah jalan menuju Situ Ciburuy, dia menyarankan sebaiknya mampir ke Guha Pawon, karena saat ini Situ Ciburuy sudah tak seindah dahulu. Menurutnya, jika saya ke Guha Pawon, tidak hanya pemandangan indah yang bakal saya dapatkan melainkan ilmu pengetahuan baru tentang sejarah zaman purbakala yang ada di Bandung.

Tanpa berpikir panjang, saya akhirnya mengikuti arahannya. Perjalanan dari warung si mamang ke Gua Pawon hanya sekitar 45 menit dan tepat pukul 09.00 WIB saya tiba di lokasi. Pada saat itu, belum ada pengunjung yang datang, mungkin bisa dibilang saya tamu pertama yang tiba di sana. Sambil menunggu tamu lainnya datang dari tempat parkiran motor saya membaca artike yang tertera di papan informasi untuk mengetahui sejarah Gua Pawon itu. 

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada seorang pria berkulit hitam menghampiri saya dan baru membuka pintu masuk Guha Pawon sambil memegang sapu lidi yang diselipkan di ketiaknya. Lantas, pria itu langsung mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam gua,"sendirian aja, neng? enggak sama teman?," tanyanya. "Tidak 'A, saya memang hobi ngebolang sendirian," jawabku sambil tersenyum kepadanya.

Dia menyarankan, sebaiknya datang ke Gua Pawon pada saat matahari terbenam. Sebab, siang hari tidak begitu bagus, banyak aktivitas pabrik yang merusak pemandangan serta hawa panas akan membakar tubuh kita. Selain itu, di sore hari dari atas gua mata kita akan dimanjakan dengan hamparan keindahan panorama alam Bandung Barat dan bisa mampir ke Stone Garden mirip Stonehenge di luar negeri.

Sambil berjalan menuju ke dalam gua, selang beberapa menit tamu baru dari Bandung datang. Beruntung ada teman yang akan masuk ke dalam gua, karena saya agak khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika sendirian di dalam gua. 

Kami akhirnya berkenalan. Sepasang pemuda-pemudi itu merupakan aktivitis peduli situs purbakala. Dia menceritakan berbagai aktivitasnya kepada saya, meminta saya untuk turut serta menjaga kearifan lokal terutama situs-situs purbakala yang saat ini tidak mendapatkan perhatian penuh oleh pemerintah.

Setelah berbincang panjang lebar sambil berjalan ke dalam goa, tibalah saya di pintu utama Gua Pawon. Karena saya penakut, akhirnya mempersilahkan meraka untuk masuk duluan. 

Tiga meter dari mulut Gua Pawon, aroma tak sedap langsung menyergap alat penciuman saya. Baunya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, mungkin seperti ini kalimat yang tepat untuk menjelaskan aroma yang saya cium ketika masuk Gua Pawon ; bau air kencing ditambah bau kotoran tikus yang sudah lama di dalam air dengan lumut hijau lembab, begitulah, bayangkan sendiri.

Tetapi, bau tak sedap itu lantas hilang saat melihat batuan besar dengan tekstur yang tak beraturan seperti karang di dasar lautan. Gua Pawon tidak seperti gua-gua lain, yang letaknya di dalam perut bumi. Untuk mencapainya, kita harus menaiki sekira 50 lebih step ladder yang telah disediakan oleh masyarakat. Sebab Gua Pawon merupakan sebuah gunung besar yang terbuat dari batuan alam, 600 meter di atas permukaan laut.

Untuk melihat keindahan panorama batuan fosfat dan kapur itu, kita harus sedikit bersabar. Di samping karena baunya yang kurang sedap, kita juga harus merunduk-runduk untuk dapat masuk ke dalam gua. Namun setelahnya, Anda akan leluasa berdiri tegak sambil melihat puluhan kelelawar beterbangan ke sana kemari dan bisa memandangi Desa Citatah dari atas.


Menurut cerita penduduk setempat, Gua Pawon merupakan jantungnya Jawa Barat atau dengan kata lain sejarah Pasundan berasal dari gua ini. Sebab, di Gua Pawon untuk pertama kalinya ditemukan kerangka manusia purba yang diyakini merupakan orang Sunda pertama di Jawa Barat.

Kalau kata teman baru saya itu, dulunya Bandung merupakan laut besar dan Gua Pawon ini merupakan salah satu coral terbesarnya. Jika dilihat dari bentuk batunya, memang seperti karang di laut, kemudian dia menjelaskan lagi bahwa di sini tempat singgah manusia-manusia purba zaman Megalitikum.

Untuk memastikan ucapannya, saya akhirnya mencari tahu lewat dunia maya ihwal Guha Pawon. Disitat dari laman Sebandung.com, saya mendapatkan jawaban ilmiah berdasarkan penelitian ahli sejarah.

"Berdasarkan hasil survey G.H.R. Von Koenigswald dan A.C. De Yong yang dilakukan dari tahun 1930 hingga 1935 diasumsikan letak gua ini ada di tepi Danau Bandung Purba. Di sini juga banyak ditemukan berbagai peralatan zaman purba yang terbuat dari bahan kalsidon, obsidian, rijang, kwarsit, dan andesit yang berbentuk gelang batu, anak panah, penyerut, pisau, dan batu asah yang berasal dari zaman Preneolitik. Di gua ini juga banya ditemukan berbagai artefak zaman purbakala seperti gerabak, alat perhiasan, spatula, dan sebagainya. Pada zaman ini manusia sudah mulai hidup secara menetap di ceruk atau gua-gua di perbukitan."

Tidak hanya itu, Guha Pawon juga ada kaitannya dengan mitologi Sangkuriang. Di ruang utama Gua Pawon, warga meyakini sebagai tempat memasak atau dapurnya Dayang Sumbi, ibunda dari Sangkuriang. Dahulu kala, Ibu Dewi Dayang Sumbi sering membuatkan makanan untuk suaminya Tumang dan Sangkuriang di tempat tersebut. Percaya atau tidak, itu urusan belakangan yang penting bisa datang dan menyaksikan keajaiban ciptaan Tuhan, sudah cukup.


Puas melihat bagian tengah Guha yang besar dan dipenuhi kelelawar itu, saya akhirnya mendaki ke atas Gua, di mana terdapat artefak manusia purba-tiruan, yang asli sudah diamankan di museum-dan ditutupi pagar besi oleh pihak pengelola. Artefak itu dipercaya sebagai manusia pasundan pertama yang ada di Jawa Barat.

Tepat di depan ruang artefak itu, terdapat ruang sedikit lebar dengan batuan yang menjulang ke langit. Jika memiliki jiwa pemberani, Anda bisa memanjat batunya untuk dapat menjelajahi gua berikutnya dan menyaksikan pemandangan pabrik-pabrik batu kapur di sekelilingnya.

Teman baru saya itu menceritakan, bahwa Gua Pawon ini diambang kehancuran. Pasalnya, pabrik-pabrik batu alam telah menghancurkan tebing-tebing serta pegunungan di kiri dan kanan gua, untuk mengambil kapur dan batuan lainnya. Miris, melihat situs zaman purbakala yang sudah tak terawat ditambah lagi dengan adanya pengerukan batu yang mengancam Gua Pawon.

Jika pemerintah kota Bandung, perhatian dengan situs purbakala ini, tentunya tidak akan ada lagi pabrik-pabrik yang menggerus batuan alam dan para peminat sejarah dari berbagai daerah akan datang untuk ikut melestarikan Gua Pawon. Saya beruntung bisa melihat langsung tempat ini, mungkin sepuluh tahun yang akan datang, Gua Pawon sudah rata dengan tanah, karena telah dimakan oleh kerakusan pengusaha batu alam dengan menjadikan batuannya sebagai mata pencaharian. 

Saya rasa, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan harus segera bertindak cepat menyelamatkan peninggalan zaman Megalitikum itu, agar tidak hancur dikeruk batunya oleh para pengusaha. 

Ditambah lagi, tidak adanya penjagaan ketat di seputar lokasi oleh penduduk sekitar. Bisa jadi, banyak orang yang datang usil menggali tanah yang berada di dalam gua tersebut dan mendapatkan barang berharga peninggalan zaman purba tanpa memberitahu pemerintah setempat, ini akan membahayakan bagi perkembangan sejarah purbakala ke depan. Sebab, ahli sejarah atau peneliti sejarah belum banyak melakukan eksavasi di Gua Pawon.



Perjalanan menuju Gua Pawon

Tidak sulit untuk menuju lokasi Gua Pawon. Dari Bandung Kota, kita dapat mengambil akses menuju Cimahi, Padalarang hingga Jalan Raja Mandala sampai ke Cipatat. Jaraknya dari Bandung ke Gua Pawon hanya sekitar 25 hingga 30km dan bisa ditempuh dengan berbagai kendaraan.

Yang perlu diperhatikan adalah keselamatan saat menuju ke lokasi, apalagi bagi pengendara sepeda motor jika tidak berhati-hati akan kesenggol kontainer dan truk besar pengangkut batu karena jalannya sedikit licin karena banyak terdapat pasir dengan tekstur jalan berkelok-kelok.

Posisi Gua Pawon berada di sebelah kanan dari arah Bandung. Terdapat gapura besar bertuliskan "Gua Pawon" sebagai petunjuk arah menuju situs purbakala itu.

Dari gapura itu, sekira 5 sampai 6km untuk sampai ke lokasi. Sama seperti jalan besar, jalan menuju Gua Pawon Anda akan menemui turunan, tanjakan, jalan berkerikil tajam dengan pemandangan pabrik di samping kiri dan kanannya. 


Jika Anda mengendarai mobil, tak perlu khawatir karena, aksesnya cukup bersahabat untuk kendaraan roda empat meski harus gajluk-gajlukan sepanjang jalan. Tiba di gerbang Gua Pawon terdapat area parkir yang luas, muat untuk puluhan kendaraan roda empat dan roda dua. 


Saya sarankan untuk tidak membawa makanan dan minuman ke lokasi, di samping bisa membuat kotor situs-pasti makanannya akan dibawa ke atas-serta mematikan usaha warga sekitar yang telah menyediakan kedai makan di bawah Gua Pawon. Hampir semua makanan tersedia di sana, dari makanan berat hingga makanan ringan. Jenis minumannya pun beragam, dari minuman kaleng, sampai racikan sendiri atau minuman khas Jawa Barat. 

Semoga kita yang berkunjung ke Gua Pawon mendapatkan ilmu pengetahuan baru seputar sejarah purbakala yang berada di Jawa Barat. Selain itu, bisa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa lantaran telah menciptakan keindahan alam yang begitu mengagumkan di Indonesia. 

Pelajarannya adalah agar kita dapat ikut menjaga dan melestarikan Gua Pawon dari tangan-tangan jahat. Kalau bukan kita siapa lagi?