Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Di Bali, wisatawan tidak hanya dimanjakan dengan aneka pemandangan alam yang indah saja, tapi juga berbagai tempat nongkrong asyik. Sala...

Di Bali, wisatawan tidak hanya dimanjakan dengan aneka pemandangan alam yang indah saja, tapi juga berbagai tempat nongkrong asyik. Salah satunya di sebuah kafe menarik yang terletak di Sanur, dengan latar bengkel mobil dan motor antik, pengunjung yang datang bisa merasakan keunikan tempatnya.

Jalan-jalan ke Bali, menikmati pemandangan indah sembari mampir ke tempat nongkrong paling asyik bareng teman-teman merupakan agenda wajib yang harus ada di dalam list. Di Bali, terdapat beberapa spot menarik dan sayang kalau tidak dikunjungi. Salah satunya tempat makan di kawasan Sanur, Man Shed. 

Kafe seluas hampir satu hektar ini tergolong unik, karena mata pengunjung akan dimanjakan dengan beberapa mobil-mobil antik era 50 hingga 80 tahunan. Tidak hanya itu, di tempat ini juga ada motor-motor bekas yang usianya mungkin hampir seperempat abad. 

Mobil dan motor yang tersaji di Man Shed, boleh disewa. Area kafe juga bisa dijadikan pemotretan majalah, pre-wedding, atau sekadar narsis di depan mobil antik. Untuk menyewa mobil dan motor antik di sini, dikenakan harga Rp. 500ribu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Dulunya, kafe ini merupakan sebuah bengkel kendaraan bermotor, kemudian terbengkalai dan dijadikan sebuah tempat nongkrong tanpa harus mengubah konsep bengkel yang sudah ada awalnya. Tak ayal, pada saat memasuki area Man Shed, mata Anda akan dimanjakan dengan perkakas-perkakas bengkel yang dikemas sedemikian menarik untuk menjadi bagian dari properti kafe.

Man Shed juga memanfaatkan barang-barang bekas seperti galon air minum, motor Vespa yang sudah tidak layak pakai, tempat botol bir, hingga telefon umum jadul untuk memberi kesan berbeda dari kafe-kafe yang ada di Bali. Selain itu, di kafe ini juga bisa bermain billiard secara gratis sambil menunggu menu makanan datang. Ditambah lagi ada live music blues, dan layar berukuran 150 x 150 meter untuk menonton pertandingan bola dan Moto GP secara langsung.

Tempat buang air kecil pria yang terbuat dari pipa bekas dan juga galon air minum bekas
Meski tempatnya terlihat sangat oldstyle, tapi menu makanan yang disuguhkan sangat moderen, dan bersahabat dengan lidah. Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, atau bisa dibilang sangat terjangkau, dengan uang seratus ribu, kamu bisa menikmati cordon bleu atau steak dan minuman ringan.

Para jomblowan dan jomblowati tampaknya harus mengunjungi tempat ini, karena, banyak bule-bule dari berbagai negara yang makan malam di Man Shed. Komunitas motor dan mobil antik juga sering menghabiskan waktu mereka di sana. Saat yang tepat untuk mencari pasangan, hahaha.

Lokasi Man Shed

Letak kafe Man Shed tidak terlalu sulit di temukan. Dari Legian atau Kuta, Anda bisa menggunakan sepeda motor menuju arah Sanur. Jika sudah memasuki wilayah Sanur, cari jalan Tirtanadi II yang letaknya dekat dengan Jalan Merta Sari.

Setelah menemukan Jalan Tirtanadi II, dari perempatan lampu merah sekira 25 meter, Anda akan melihat plang kafe Man Shed.

Salah satu model tempat duduk di Man Shed Cafe yang terbuat dari motor Vespa yang sudah tidak terpakai.
Bagi yang membawa kendaraan pribadi, kafe Man Shed memiliki lahan parkir yang cukup luas dan memuat puluhan kendaraan bermotor. Jadi, jangan khawatir tidak kebagian tempat parkir saat makan malam cantik di kafe dengan konsep bengkel mobil antik itu.

Sanghyang Heuleut merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Kembang, Banduung. Mata kita akan dimanjakan dengan sejumlah pa...


Sanghyang Heuleut merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kota Kembang, Banduung. Mata kita akan dimanjakan dengan sejumlah panorama alam yang begitu mengagumkan, hasil ciptaan Tuhan. 

Berkunjung ke Bandung, sayang rasanya jika hanya menikmati ribuan tempat makan unik atau belanja produk fashion di factory outlet atau distro-distro yang tersebar di sana. Jika kita memiliki jiwa yang sangat mencintai keindahan alam, di Bandung Anda akan dimanjakan dengan itu semua. Pasalnya, Bandung menyimpan ratusan bahkan ribuan kekayaan alam, mungkin bisa dibilang setiap sudut Bandung terdapat keindahan yang sayang jika tidak dilihat dan diabadikan.

Kali ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan, bisa berkunjunng ke tempat mandinya para bidadari dan dewa kayangan, Sanghyang Heuleut. Menurut definisi harfiah bahasa Indonesia Sanghyang berarti Tuhan atau Dewa sedangkan 'Heuleut' memiliki arti antara dua waktu atau sesaat. Secara terminologi, Sanghyang Heuleut merupakan tempat mandi atau tempat singgah sementara para bidadari dan dewa di bumi, dan itu ada di Jawa Barat.

Kisah legenda Sangkuriang yang mencintai ibunya sendiri Dewi Dayang Sumbi, Sanghyang Heuleut ada kaitannya dengan cerita ini. Konon, ibunda Sangkuriang sering mandi di Sanghyang Heuleut atau sekadar meminum airnya. Selain itu, menurut cerita rakyat setempat, terdapat bidadari-bidadari cantik dari langit yang menjaga sungai tersebut. 

Seperti biasa, tempat-tempat yang kaya akan mitos selalu dikunjungi orang-orang untuk melakukan samadi atau meditasi untuk melakukan ritual-ritual magis atau sekadar menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya. Sebab, di Sungai Sanghyang Heuleut, mata kita akan dimanjakan dengan jutaan batu-batu alam dan aliran sungai dari Danau Citarum Purba.

Mulanya, tempat ini sangat disakralkan oleh warga sekitar. Mereka tidak berani untuk mengunjungi tempat itu di hari-hari biasa, ada jadwal tertentu yang dipercaya Dewi Dayang Sumbi turun ke bumi dan mandi di tempat itu dan jika kita tidak berhati-hati malapetaka akan menimpa. 

Surga Tersembunyi itu ada di Bandung

Ya, saya menyebutnya surga, karena pemandangannya yang begitu menawan. Meski perlu banyak tenaga menempuh Sanghyang Heuleut tetapi setiba di lokasi semua lelah dan rasa takut terbayar dengan keindahan panoramanya. 

Sanghyang Heuleut masih satu area dengan Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro. Rutenya adalah, kita akan melewati Sanghyang Tikoro dulu, lalu Sanghyang Poek dan terakhir Sanghyang Heuleut. Ketiga tempat itu merupakan tempat mengalirnya aliran sungai Citarum Purba atau Danau Purba.

Untuk menempuh Sanghyang Heuleut kita harus melewati bebatuan besar, sebetulnya ada dua area yang bisa dilewati menuju tempat mandi Dewi Dayang Sumbi itu, yakni lewat jalur bebatuan atau pinggir sungai atau lewat hutan. Saya dan kawan-kawan dari pecinta alam UIN Bandung memilih untuk lewat jalur hutan, karena teksturnya tanah lebih bersahabat untuk dipijaki daripada lewat batu. 

Selama kurang lebih satu jam setengah kami berjalan kaki menuju surga tersembunyi itu. Kaki sudah terasa panas karena jalanan hutan cukup terjal dan perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Setelah melewati hutan sepanjang 3-5 km, kita harus melewati jalur sungai, di sana kaki akan seperti direfleksi oleh batu-batu kecil dan besar.

Selama di perjalanan kita harus ekstra hati-hati saat melewati bebatuan, sebab jarak batu antara batu lainnya cukup jauh dan harus melompati bebatuan yang didominasi oleh lumut dan dialiri air sungai itu. Disarankan untuk menggunakan sepatu gunung atau sendal gunung, karena jika menggunakan sepatu biasa besar kemungkinan sepatu akan rusak dan kepeleset ke dalam air dan itu sangat membahayakan bagi diri Anda sendiri maupun orang lain, karena di sana tidak ada tim rescue, jadi harus bisa menjaga diri.

Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, saya hampir putus asa, badan sudah lelah, berkeringat dan kaki mau putus karena sungai keramat itu belum juga nampak. Akhirnya, kami istirahat sejenak di atas bebatuan besar. Ternyata, setelah memanjat batu besar mata saya dibuat berlinang, tubuh saya kembali segar dan bersemangat, sebab dibalik batu besar itu di sanalah kita dapat melihat hamparan sungai Sanghyang Heuleut yang sangat bersih.


Tanpa basa basi atau malu, saya akhirnya membuka baju di hadapan kawan-kawan baru saya itu. Salah satu teman saya yang mengenakan jilbab dengan percaya diri membuka jilbabnya dan hanya mengenakan kaos pendek di hadapan banyak pria. Mungkin perasaannya saat itu sama seperti saya, lelah, namun itu semua terbayar dengan menyentuh air sungai yang dingin disertai pemandangan indah.

Badan yang tadinya seperti dibakar matahari, pada saat menyelam ke dalam air seperti diguyur air es, adem. Nikmat luar biasa, rasa lelah, putus asa, depresi di perjalanan tadi hilang seketika, saya kemudian berteriak mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah bisa diberi kesempatan menikmati hasil ciptaannya.



Cerita menarik

Selama di perjalanan, kami istirahat di beberapa titik di atas bebatuan jenis Karst. Mata kami dikejutkan dengan munculnya beberapa ekor kera hutan. Awalnya takut tapi saya memberanikan diri untuk memanggil kera-kera itu dengan cara berteriak, namun panggilan saya tidak digubris oleh mereka.

Setelah sampai di danau dengan ukuran sekira 5-10 meter itu mereka mengumpat ke atas batu yang ditumbuhi pohon-pohon besar di atasnya. Saya penasaran dan mencari-cari keberadaan mereka, dan ingin memfoto. Usai membasahkan diri di dalam air sungai, saya akhirnya beristirahat di sebuah batu besar di pinggir sungai. 

Beberapa saat setelah asyik merebah badan sambil merokok, kera-kera itu iseng mungkin ingin mengajak bermain. Kami yang berada di bawah kejatuhan reruntuhan batu kecil, kemudian langsung melompat dan pindah tempat takut batu besar menimpa kami, tapi beruntung bukan batu besar yang jatuh pada saat itu.

Surga gratis cuma di Bandung

Setelah hampir satu jam lebih menikmati Sanghyang Heuleut kami akhirnya pulang dengan rute yang sama. Oiya, untuk masuk ke Sanghyang Heuleut pendaki tidak perlu mengeluarkan uang, karena surga kecil di bumi itu gratis tidak ada tiket untuk masuk ke dalamnya. 

Yang perlu disiapkan hanya uang bensin dan makan untuk mengisi tenaga saat menempuh jarak 40 km lebih dari Bandung Kota menuju Cipatat, Cimahi, Bandung Barat. Jangan lupa untuk membawa air mineral selama perjalanan karena anda bisa terkena dehidrasi karena jaraknya cukup lumayan dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Selain itu, bagi pengendara motor jangan lupa pakai masker penutup wajah dan sarung tangan, agar paru-paru tidak kena polusi dan kulit tangan menghitam. Sebab, saat melewati jalan Cipatat, Citatah dan Raja Mandala, Anda akan bertemu dengan ratusan kontainter pengangkut batu besar. Debu dari batuan sedimen itu sangat membahayakan untuk paru-paru Anda, cuaca panas juga dapat merusak kulit tangan saat melintasi jalan tersebut.

Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek seperti anak dan ibu yang tak pernah bisa terpisahkan, sedarah sepenangggungan. Jika berwisata men...


Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek seperti anak dan ibu yang tak pernah bisa terpisahkan, sedarah sepenangggungan. Jika berwisata menikmati Sanghyang Tikoro tanpa mengunjungi Sanghyang Poek bagai sayur tanpa garam, karena jaraknya cukup dekat karena air sungainya mengalir dalam satu aliran.

Usai menikmati panorama Sanghyang Tikoro, saya bersama teman-teman bolang yang bertemu di tempat parkiran Waduk PLTA Saguling menuju sungai Sanghyang Poek yang jaraknya sangat dekat. Hanya membutuhkan waktu lima sampai sepuluh menit menuju lokasi tersebut dengan berjalan kaki melewati jalan berbatu dan pepohonanan rindang. 

Sanghyang Poek dalam bahasa Indonesia memiliki arti Tuhan Kegelapan, Sanghyang bermakna Tuhan atau Dewa, sedangkan Poek dalam bahasa Sunda berarti Gelap. Wajar jika masyarakat setempat menamai Gua Kegelapan karena ketika kita melewati jalan setapak di sana harus melewati gua purbakala yang sangat gelap dan lembab. 

Menurut cerita legenda, sungai yang merupakan jejak Sungai Citarum Purba ini merupakan tempat murkanya Sangkuriang lantaran gagal dalam membuat bendungan yang diminta ibunya Dayang Sumbi. Sama seperti Sanghyang Tikoro, di sana juga kerap dijadikan tempat orang melakukan ritual pesugihan maupun tempat mencari Kembang Jaksi yakni kembang milik Dayang Sumbi agar bisa awet muda. 

Saking percayanya, ada banyak orang sepulang bertapa untuk menginginkan Kembang Jaksi menjadi bodoh atau seperti orang bingung. Karena, memang tidak diketahui Kembang Jaksi itu seperti apa dan di mana bisa diperoleh.

Pada saat memasuki gua itu, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan stalaknit dan stalakmit berbentuk miring hasil proses alam. Batuan besar tersebut bukan dibentuk oleh tangan manusia tetapi telah terbentuk secara alami dari pelarutan alamiah.

Ketika masuk ke dalam gua, kita tidak akan bisa menikmati keindahannya yang ada hanya gelap gulita. Butuh senter untuk masuk ke dalam gua tersebut, agar melihat keindahan batu alam yang berkilau-kilau saat terkena cahaya layangnya logam emas maupun perak. Senter dibutuhkan untuk mengetahui arah yang akan kita susuri menuju arah keluar gua. Setelah di luar, mata kita akan disegarkan dengan aliran sungai dengan bebatuan putih sejenis batu gamping yang berada di sepanjang sungai. Bentuk batunya sangat unik dan lokasi tepat untuk para pecinta fotografi, karena di sana banyak terdapat spot menarik yang sayang jika tidak diabadikan.



Ketika saya berada di tempat ini hanya ada segelintir orang, teman-teman dari pencinta alam UIN Bandung dan saya. Karena, kami menuju lokasi pada hari kerja, jika datang pada saat hari libur sepanjang sungai akan dipadati orang yang berwisata dan itu akan membuat pemandangan Sanghyang Poek kurang istimewa.

Hal menarik lainnya adalah, saat saya mengunjungi tempat ini aliran sungainya tidak begitu deras dan airnya tidak terlalu tinggi sehingga dapat dipijak. Itu disebabkan karena kemarau panjang dan belum turun hujan di Jawa Barat. Jadi, mata saya dimanjakan dengan bentuk-bentuk batu karst dengan bentuk-bentuk yang mengesankan. Meski cuaca panas, saya rela berdiri di atas batu alam untuk mengabadikan tempat paling syurga yang pernah saya kunjungi. 

Menuju lokasi

Akses menuju Sanghyang Poek sama persis seperti arah jalan ke Sanghyang Tikoro dari Bandung Kota-Cimahi-Padalarang-Raja Mandala-Cipatat. Jika Anda sudah bertemu Sungai Sanghyang Tikoro, cukup berjalan kaki sekira 5 sampi 10 menit melewati Power House PLTA Waduk Saguling. Di sisi jalan Anda akan bertemu hutan dengan pepohonan yang rimbun dan jalan berbatu tajam.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika menuju Gua Purbakala Sanghyang Poek untuk tidak merusak atau menulis-nulis di bebatuan. Karena, hal itu akan merusak keindahan alam Sungai Sanghyang Poek.

Saya sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki ke gua purba milik Dewa itu. Bisa menikmati keindahan alamnya dan bercengkrama dengan bisikan angin serta aliran air yang mengalir sangat bersahabat. Tugas kita saat ini menjaga dan melestarikan kekayaan alam di tanah pasundan bukan malah merusak!


Jazz Bogor Reunion 2015 Kebun Raya Bogor, 31 Oktober 2015. Penikmat musik Jazz kota hujan pasti kenal akrab dengan acara tahuna...


Jazz Bogor Reunion 2015

Kebun Raya Bogor, 31 Oktober 2015.

Penikmat musik Jazz kota hujan pasti kenal akrab dengan acara tahunan yang diselenggarakan Moksa Activation ini. Ada yang menarik di tahun ini, ya, Jazz Bogor Reunion 2015 bakal berlangsung di Kebun Raya Bogor dari pukul 13.00 WIB sampai larut malam.

Sejumlah musisi Jazz terkemuka Indonesia pamer kekuatan musik Jazz mereka di Kebun Raya Bogor, 31 Oktober mendatang. Tidak hanya dari Indonesia sejumlah musisi Jazz dari luar negeri diterbangkan langsung untuk menyemarakan acara super kece ini, beberapa di antaranya Shaku Hachi yang tenar dengan alat musik siulnya itu, Tritone, dan Lemay & No Rules Quartet.

Berbeda dengan acara musik jazz lainnya, Jazz Bogor Reunion 2015 sangat konservatif dan memegang teguh filosofi musik Jazz sebagai musik Amerika Serikat yang mengakar pada musik folks dari Afrika dan Eropa. Tenang, tidak ada aliran musik pop, rock maupun reggae di dalam acara ini. ha ha ha!

Semuanya dikemas SE-JAZZ mungkin, agar para penikmat musik yang didominasi oleh suara trompet, piano, bass, dan trombon itu tidak kecewa. Bocorannya, acara ini tidak mengharuskan Jazzer beli tiket berulang-ulang, mungkin harus beli tiker berulang-ulang kali ya. Karena, harus mondar-mandir lihat penampil di beberapa venue.

Konsep tahunan Jazz Bogor ini selalu berganti tiap tahunnya, agar tidak monoton. Untuk 31 Oktober nanti, tema back to nature diangkat, itu disebabkan kondisi atmosper semakin tipis, ditambah lagi es di antartik sudah sebagian besar mencair. *Jakarta-Bogor bentar lagi tenggelam dah* hahaha, terlepas dari itu, asyik dong menikmati Jazz di bawah pohon sambil bawa pacar, gebetan, temen atau orangtua. Sambil ngopi cantik apalagi. 

Saya sih berharap, Moksa menghadirkan Jane Monheit atau Caro Emerald atau Carolina Moon, Chris Botti atau Dave Kozz, atau sekelas Sergio Mendes dan Herbie Hancock. Tapi dengan keberadaan Idang Rasjidi, Iga Mawarni dan Rieka Roeslan itu sudah cukup membahagiakan. 

Semoga 31 Oktober nanti, bakal Jazz ABIS!

GRAB THE TICKET HERE!

JAKARTA-Ratusan santri Pondok Pesantren Al-Futuwwah di Jalan Haji Thalib, Cipete Utara, Kemang, Jakarta Selatan kesulitan untuk melaks...


JAKARTA-Ratusan santri Pondok Pesantren Al-Futuwwah di Jalan Haji Thalib, Cipete Utara, Kemang, Jakarta Selatan kesulitan untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah karena masjid mereka terisolasi oleh pagar beton dan yang diberi beling dan kawat berduri oleh PT. FIM Jasa Eka Tama.

Meski kesulitan untuk melaksanakan ibadah ratusan santri dan juga warga setempat merelakan diri untuk memanjat pagar beton milik Ichsan Thalib itu. Menariknya, mendapati kesulitan beribadah, para santri dan juga warga justru lebih giat melaksanakan shalat lima waktu.

Terlebih, saat ini mereka tengah menjalankan ibadah puasa. Sadar bahwa tempat beribadah terisolasi oleh pagar beton, namun semangat beribadah di bulan Ramadhan tak pernah surut, bahkan selasar masjid selalu penuh jamaah yang hendak menunaikan shalat

"Kami sangat kesulitan, tapi dengan adanya ini kami semangat untuk beribadah," jelas Supriyatno warga setempat saat ditemui di lokasi, Kamis (18/6/2015).

Berdasarkan pantauan penulis di lokasi, terdapat pagar beton mengelilingi lahan kosong yang di dalam terdapat masjid Al-Futuwwah dan juga pesantren yatim piatu itu. Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada tanah Palestina, di mana warganya dilarang untuk shalat di masjid Al-Aqsa karena kedua negara itu tengah bersengketa lahan dengan Israel. 

Supriyatno menambahkan bahwa ratusan jamaah yang hendak shalat harus menempuh jarak sekira dua sampai tiga kilometer untuk mencapai masjid. Padahal sebelumnya, mereka hanya berjalan kaki 100 sampai 200 meter menuju masjid Al-Futuwwah itu. 

Pendiri pondok pesantren Al-Futuwwah Ustadz Sanwani memaparkan adanya pagar beton yang diberi beling dan kawat besi di sekeliling pesantren tak sedikit santri yang hendak beribadah mengalami luka cukup serius.

"Ada yang kena kepalanya ada yang kena kakinya ini kan kasian, masa aktivitas keagamaan seperti dihalang-halangi," jelas Sanwani.

Untuk diketahui, peristiwa sulitnya warga dan santri untuk shalat berjamaah di masjid Al-Futuwwah berawal dengan adanya seorang pengembang proyek bernama Ichsan Thalib, Direktur dari PT.FIM Jasa Eka Tama yang telah membeli lahan warga Jalan Haji Tholib seluas 2000 meter persegi.

Kemudian dari 2000 meter persegi itu terdapat lahan 150 meter persegi yang belum dibeli lantaran pemilik tanah yakni Haji Muhammad Sanwani Naim pemilik pesantren yatim piatu itu enggan menjualnya karena untuk mendirikan pesantren.

Ini Pesantren atau Penjara, Tuan?

Rekonstruksi Pembunuhan Jopi (Courtessy : Raiza Andini) Menyambung kisah sebelumnya.. Barangkali, orang menyangka bahwa Bung Jopi...

Rekonstruksi Pembunuhan Jopi (Courtessy : Raiza Andini)

Menyambung kisah sebelumnya..

Barangkali, orang menyangka bahwa Bung Jopi meninggal karena dia merupakan seorang preman dan layak dibunuh secara sadih. Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah jangan sampai ada fitnah maupun opini yang menyudutkan seseorang, karena kita tidak tahu seperti apa cara Tuhan mengangkat ruh kita.

Dalam sangkaan penulis, Jopi meninggal secara terhormat, dilihat dari begitu banyaknya atensi masyarakat pada relawan Joko itu. Di sisi lain, muncul beberapa suara dari berbagai aktivis kelapa sawit, pegiat anti-korupsi, sampai adanya isu pembangkitan kaum adat di Indonesia agar lebih sejahtera dan terpantau oleh pemerintah karena selama ini mereka terbengkalai bahkan tak dilirik oleh pemerintah daerahnya sendiri.

Bisa jadi dengan kematian Bung Jopi banyak orang yang sadar akan kondisi carut marut di Indonesia, terlebih apa yang sedang diperjuangkan pria asal Sumatera Utara itu yakni sebagai orang yang memperjuangkan kelapa sawit Indonesia dan juga masyakarat adat. Bahkan Jopi juga pernah menjadi salah satu aktivis ramah lingkungan bernama Greenpeace.

Saya cukup takjub dengan banyak orang di laman sosial Twitter yang begitu perhatian dengan kematian anak rantau itu. Pada saat jenazah Jopi tiba di rumah AMAN, pelayat dari berbagai kalangan tumpah ruah di sana dari mulai aktivis, wartawan, sampai orang yang baru sekali bekerjasama dengan Jopi datang untuk memberi penghormatan terakhir.

Bagi sebagian orang yang tidak mengenal dekat sosok Jopi mungkin hanya mengomentari hal-hal negatif. Penulis sendiri tidak mengenal siapa Jopi itu, dia hanya mengetahui lewat dunia maya yang termaktub di beberapa laman sosial, kemudian menyimpulkan orang yang katanya meninggal saat mabuk, bertato dan memiliki tampang preman itu merupakan orang baik yang selama ini telah memperjuangkan nasib kaum adat di Indonesia.

Sedangkan komentator yang memberi argumen tendensius dan menghina kematian Jopi merupakan orang asing tanpa mengenal sosok Jopi lebih dekat. Di antara mereka mungkin pernah tersakiti hatinya dengan segala macam kritik dari Jopi. Namun, apakah menghardik kematian seseorang seperti itu membuat mereka terlihat "Jago"? atau lebih baik dari malaikat sekalipun.

Apakah orang yang mengomentari kematian Jopi sebagai kematian paling buruk itu adalah orang paling suci di muka bumi? atau merasa agamanya lebih baik dari siapapun?

Sementara, si lusuh, pemabuk, perokok, bertato dan cungkring (Jopi) itu telah menyelamatnya ratusan hektar lahan kelapa sawit yang selama ini dikuasai oleh mafia minyak dari penjuru dunia. Dia telah menyelamatkan putra putri adat bangsa dari ketertinggalan teknologi, pendidikan, ekonomi maupun masa depan.

Jika diulas lagi perihal kematiannya di depan Habibie Center, penulis berkesimpulan bahwa Jopi meninggal secara terhormat. Bisa jadi, Jopi meninggal di hadapa ilmuwan secerdas Habibie kemudian menorehkan bercak darah sebagai bukti bahwa perjuangan belum berakhir.

Apapun yang kalian komentari perihal seseorang cobalah untuk tidak melontarkan kalimat justifikasi, maupun tuduhan menyakitkan. Karena, kematian itu tanda kasih Tuhan bahwa dia ingin dekat dengan hamba-Nya(begitu bukan filosofi kematian?).

Untuk orang yang telah membunuh Jopi secara kejam, penulis berterimakasih, bisa jadi dia manusia jelmaan malaikat maut bagi Jopi. Kematian relawan Joko Widodo itu pertanda baik bagi siapapun menurut penulis. Meski tubuhnya telah dikebumikan jiwa dan raganya masih menempel di merah putih, seluruh penjuru Indonesia terkenang jasanya, perbuatannya, langkah beraninya dan kekuatannya memberantas "gajah" minyak yang selama ini menduduki ekonomi Indonesia.

Terima kasih, Bang Jopi.

Sampaikan salam kami kepada Tuhan agar Indonesia tetap hidup, meski kau sudah mati. 

(Biar agak serius, saya menulisnya seperti model berita hard news yang sering saya kirim saban hari ke email kantor)  JAKARTA-23 Mei ...


(Biar agak serius, saya menulisnya seperti model berita hard news yang sering saya kirim saban hari ke email kantor) 

JAKARTA-23 Mei 2015, merupakan tanggal paling pahit bagi para aktivis kelapa sawit, relawan Jokowi atau akrab disapa Projo dan juga aktivis masyarakat adat Indonesia. Mengapa? karena salah satu rekan mereka Bung Jopi Teguh Lesmana Perangin-angin tewas dibantai oleh perwira TNI AL bernama Joko Lestanto.

Masalahnya sepele, hanya karena tersinggung dan merasa dilecehkan oleh Jopi lantas pria bertubuh besar berpangkat Prajurit Kepala (Praka) dari Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib) Pasukan Marinir (Pasmar) II Tentara Negara Indonesia (TNI) itu tega menewaskan relawan Joko Widodo dengan menghunuskan sebilah pisau sangkur ke bagian punggung Jopi hingga menembus paru-paru.

Menurut penyelidikan dari Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL), Praka Joko sempat membeli vodka yang dicampurnya dengan bir di terminal Ragunan sebelum mampir ke Venue Bar and Lounge tempat Jopi dan beberapa sahabatnya berkumpul untuk membicarakan perihal proyek mereka dan sambil minum "air kencing iblis" (Miras_begitu kata orang dulu). 

Dalam keadaan mabuk sambil mengendarai sepeda motor jenis matik, Praka Joko tiba di bar yang katanya milik Maia Estianty itu. Di dalam bar, katanya, pelaku dan korban (Joko dan Jopi) saling tatap-entah apa maksudnya-kemudian, katanya (lagi) korban (Jopi) melecehkan pelaku (Joko)-entah seperti apa bentuk pelecehannya sampai saat ini belum terungkap-kemudian Joko menghampiri Jopi dan mulailah terjadi pertengkaran atau bahasa kecenya cekcok. 

Tak lama kemudian, Joko memberi bogem mentah kepada Jopi tapi sayang tidak kena-maklum lagi mabuk,sob-dan menarik pakaian Jopi lalu menyeretnya keluar bar. Sahabat Jopi yang pada saat itu melihat peristiwa itu langsung melerai keduanya, tapi Joko malah mengeluarkan pisau sangkur yang ada di dalam tasnya dan melukai sahabat Jopi berinisial A pada bagian pergelangan tangan sebelah kiri.

Jopi melarikan diri tepat di depan gedung Habibie Center, namun nahas, Joko yang sedang naik pitam tak terima dilecehkan Jopi di dalam Bar lantas mengejar. Dalam keadaan mabuk berat Joko tega menusuk punggung Jopi di bagian punggung. Menurut, keterangan Alex dari KontraS sebelum Joko membunuh Jopi, terdapat empat sampai lima orang prajurit TNI AL-katanya teman Joko-mengeroyok Jopi hingga babak belur. Pasalnya, selain luka tusukan terdapat luka lebam di badan dan wajah Jopi. 

Ada yang menarik dari kisah ini, antara Jopi, Joko dan Habibi Center. Secara alamiah dan naluriah, Jopi Teguh Lesmana Perangin-angin merupakan pegiat atau aktivis ramah lingkungan hidup dan juga relawan pemenangan pemilihan presiden nomor urut dua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dia tewas di tangan Joko, sedangkan Jopi sendiri merupakan relawan "Joko" sebagai seorang intelektual dan aktivis dia tewas di depan Habibie Center itu merupakan penghormatan besar. Selama ini orang mencerca bahwa Jopi akan masuk neraka karena dia tewas di dalam bar, tapi itu semua salah, dia meninggal di depan gedung milik seorang ilmuwan, profesor dan mantan presiden RI. 

Jika ditanya apakah Jopi su'ul khatimah, tidak bisa dikatakan seperti itu. Mungkin malaikat maut sudah standby di hari jumat saat Jopi tengah berkumpul dengan temannya di dalam bar Venue. Karena, melihat tempat tersebut "kotor" atau penuh maksiat, malaikat menunggu saat yang tepat untuk membuat Jopi mati secara terhormat. 

Terkait dua Joko yakni Presiden Joko dan Praka Joko mungkin itu tanda alam, untuk Presiden Joko Indonesia hampir dibuat mati olehnya dengan naiknya inflasi, bbm naik, rupiah melemah, sandang, pangan, papan semua naik belum lagi kisruh dua institusi KPK dan Polri, dua kubu di dalam satu partai yang saat ini sedang memanas hingga DPR yang menjadi dua aliran KIH dan KMP. Beras menjadi plastik, susu bubuk bayi dari tepung, lada sintetis hingga gula pun pasir dan juga batu (hadeh, emang pasir dan batu non). Yang menghebohkan terdapat beberapa menteri yang selalu Offside dalam membuat kebijakan, seperti Tedjo dkk. (pucing pala barbie).

Praka Joko, bisa jadi itu merupakan satiran untuk Joko satunya bahwasannya jika Jopi masih hidup, dia akan semakin pusing dengan kekecewaan relawannya dan berpaling entah ke mana. Bisa jadi Joko merupakan malaikat maut bagi Jopi karena tidak bisa menyelamatkan apa yang dia ajukan selama ini yakni membuat masyarakat adat semakin sejahtera, eksportir kelapa sawit ditekan dari Indonesia. Untuk membungkamnya dengan cara membunuh pria bertato itu.

"Malang benar nasibmu Bung Jopi, kau tewas di tangan Joko."

*bersambung penulis ngantuk berat, besok taruna ngambrak.....